Starawaji's Blog

Jadikan sabar dan sholat sebagai penolongmu

  • DOWNLOAD FULL APLIKASI

  • Tranlate language

  • Terima kasih kunjungannya

  • pengunjung

  • Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

    Bergabunglah dengan 24 pengikut lainnya

  • Bookmark and Share
  • counter

  • para komentator

    alghazaliefarizi di Agama terdiri dari dua ba…
    Umar rahman di Lowongan kerja Pt. Yasunaga…
    komarudin di Lowongan kerja Pt. Yasunaga…
    sakad di Lowongan kerja Pt. Yasunaga…
    Muhammad Habibie di Islam dan perkembangan zaman d…
    Abdul Kholiq Hasan di Pengertian Kedisiplinan
    kapten pergerakan di PENGERTIAN TATA TERTIB
    Sukarno Putra Naga di pt.yasunaga pt. nippon seiki b…
    hariri wahyudi di METODE MENGAJAR PENDIDIKAN…
    Febri jaka hendra di Lowongan kerja Pt. Yasunaga…
    suefah di Lowongan kerja Pt. Yasunaga…
    nurrachman di Jumlah huruf dalam Al Qur…
    Faizal di Lowongan kerja Pt. Yasunaga…
    HABIB ATHOILLAH di Faktor-faktor yang mempengaruh…
    Ari Waluyo di Lowongan kerja Pt. Indonesia N…
  • Tulisan Teratas

  • RSS indoforum

  • RSS berita aktual

  • RSS liputan 6

  • NimbuZZ

    Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

  • Add to Technorati Favorites
  • depdiknas

  • twitter

  • Top Rated

  • Contoh PROPOSAL SKRIPSI

    Posted by starawaji pada Februari 12, 2011

    BAB I

    PENDAHULUAN

    1. A. Latar Belakang Masalah

    Kehadiran agama islam di muka bumi ini merupakan petunjuk Allah SWT. Untuk memelihara, membina, dan meningkatkan derajat dan martabat manusia dalam menjalankan hidupnya yang terus tumbuh dan berkembang. Anak manusia tumbuh dan berkembang menjadi manusia dewasa melalui perawatan dan pendidikan. Kualitas manusia yang diharapkan sangat bergantung kepada bagaimana pendidikan yang diberikan kepadanya.

     

    Pendidikan merupakan bagian yang sangat penting dari kehidupan secara kodrati manusia adalah makhluk paedagogik yaitu manusia yang membawa potensi dapat didikan dan dapat mendidik sehingga mampu menjadi khafilah di bumi dan pengembang kebudayaan, ia dilengkapi dengan berbagai macam kecakapan dan keterampilan yang dapat berkembang sesuai dengan kedudukannya sebagai makhluk yang mulia. Potensi tersebut tidak akan mengalami perubahan dengan pengertian bahwa manusia terus dan berfikir, merasa dan bertindak dan dapat terus berkembang melalui pendidikan.

     

    Sejalan dengan itu, maka pendidikan agama islam sebagai suatu tugas dan kewajiban pemerintah dalam mengemban aspirasi rakyat harus mencerminkan dan menuju kearah tercapainya masyarakat yang diwarnai agama. Dalam kegiatan pendidikan agama islam, yang menjadi dasar adalah Al-Qur’an dan As-Sunah juga berlandaskan ijtihad dalam menyesuaikan kebutuhan bangsa yang selalu berubah dan berkembang.

     

    Masalah pendidikan merupakan suatu masalah yang sangat penting untuk dibahas. Karena melalui pendidikanlah dapat diharapkan suatu perkembangan manusia, dapat terorganisir dengan baik antara potensi-potensi kepribadian manusia, sehingga dapat digunakan sepenuhnya untuk kepentingan individu dan masyarakat.

     

    Pembelajaran merupakan suatu  kegiatan yang dilakukan melalui usaha-usaha yang terencana dan memanipulasi sumber-sumber belajar agar terjadi proses belajar. Ciri utama dari kegiatan-kegiatan pembelajaran ini adalah adanya interaksi, baik itu interaksi antar siswa dengan guru, ataupun dengan sumber-sumber belajar yang terdapat dilingkungannya. Pembelajaran juga merupakan suatu proses menciptakan kondisi yang kondusif agar terjadi interaksi pembelajaran.

     

    Pembelajaran terbagi dalam dua konsep yang berlangsung secara bersamaan, yaitu proses belajar yang dilakukan siswa dan proses mengajar yang dilakukan oleh guru. Menurut Asep Heni Hermawan, kegiatan yang dilakukan dalam proses pembelajaran diantaranya melakukan diagnosis kebutuhan siswa, merencanakan pembelajaran, menyajikan informasi, mengajukan pertanyaan dan menilai kemajuan belajar siswa[1]. Dengan demikian terjadinya proses belajar mengajar.

     

    Dalam proses belajar mengajar faktor guru yang memegang peranan penting disamping adanya faktor siswa, karena guru sebagai pendidik mempunyai tanggungjawab menciptakan iklim pendidikan yang kondusif di sekolah. Agar setiap anak sebagai pribadi maupun anggota masyarakat mempunyai kesempatan untuk belajar dan mengembangkan dirinya dengan baik.

     

    Kemampuan guru dalam proses belajar mengajar sangat dibutuhkan. Guru tidak hanya dapat menyampaikan pesan-pesan yang ada dalam materi pembelajaran saja. Guru tidak hanya bermonolog di depan kelas dan anak sebagai pendengar pasif. Guru juga dituntut untuk mengembangkan komunikasi interaktif dengan anak, mulai anak menginjakkan kakinya di halaman sekolah sampai anak keluar dari sekolah. Hal ini akan memberikan suasana hati yang menyenangkan anak dan menarik minat anak untuk belajar suka cita, tanpa beban keterpaksaan, tanpa rasa takut sehingga anak dapat mengembangkan penalaran dan kreatifitasnya sesuai dengan keinginan hatinya, yang pada ahirnya efektifitas pembelajaran akan tercapai sesuai dengan yang diharapkan.

     

    Di Sekolah  Dasar (SD) mata pelajaran Pendidikan Agama Islam berdiri sendiri, membahas bagaimana siswa mampu membaca Al-Qur’an menurut kaidah-kaidah tajwid, makhorijul huruf, meyakini isi kandungan Al-Qur’an, keimanan, ibadah, akhlaq, syari’ah. Sejarah islam, sehingga tercipta watak dan kepribadian yang sesuai dengan Al-Qur’an pada sekolah dasar, mata pelajaran pendidikan Agama islam bukan satu-satunya faktor yang menentukan watak dan kepribadian  siswa. Tetapi secara substansial memiliki kontribusi dalam memberikan motivasi kepada siswa untuk mempraktekan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari.

     

    Efektifitas pembelajaran Pendidikan Agama Islam diharapkan tercapainya target kurikulum yang telah ditetapkan, daya serap siswa yang maksimal, profesionalisme guru, keaktifan siswa dalam belajar dan prestasi belajar siswa yang senantiasa meningkat.

     

    Berdasarkan penelitian pendahuluan, dijumpai siswa-siswi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri I Puloampel, masih kurang dalam pengamatan keagamaannya yang sesuai dengan isi kandungan Al-Qur’an dan Hadist, hal ini memungkinkan kurang efektifitasnya guru dalam pembelajaran.

     

    Berdasarkan latar belakang masalah tersebut diatas, maka penulis ingin mengadakan penelitian dan membahas skripsi yang berjudul “Efektifitas Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Di SMK Negeri I Puloampel Kecamatan Puloampel Serang Banten”

     

    Penulis memilih judul tersebut di atas dengan alasan sebagai berikut :

    1. Karena Pembelajaran Pendidikan Agama Islam belum maksimal
    2. Karena Pendidikan Agama Islam merupakan dasar pendidikan keagamaan lainnya
    3. Karena efektifitas pembelajaran Pendidikan Agama Islam sangat efektif untuk mengungkap masalah keilmuan lainnya
    4. Menarik minat penulis untuk mendapatkan gambaran tentang efektifitas pembelajaran Pendidikan Agama Islam hubungannya dengan hasil yang diharapkan siswa.

     

    1. B. Identifikasi Masalah

    Sesuai dengan yang telah diuraikan dalam latar belakang maka penulis mengidentifikasi masalah-masalah yang berkaitan dengan efektivitas pembelajaran diantaranya perencanaan pembelajaran, pengorganisasian kelas, motivasi guru, motivasi orang tua, kedisiplinan  antara guru dengan siswa, sistematika pembelajaran, kegiatan keagamaan diluar sekolah, supervisi dan pengawasan terhadap kelas serta penilaian.

     

    1. C. Pembatasan dan Perumusan Masalah
      1. Pembatasan Masalah

    Agar lebih mudah untuk memahami dan menghindari kesalahpahaman dari judul diatas, maka perlu adanya penegasan istilah yang ada dalam judul tersebut yang dianggap penting sebagai berikut :

    Efektifitas             : Gambaran tingkat out put yang diinginkan tercapai.[2]

    Pembelajaran         :  Proses interaksi baik antara manusia dengan manusia ataupun antara manusia dengan lingkungan.[3]

     

    Selain pembatasan konseptual, penulis juga hanya membatasi pada efekktifitas pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMK Negeri I Puloampel Kecamatan Puloampel Serang Banten pada tahun pelajaran 2010/2011, yang dilaksanakan pada bulan juni sampai dengan bulan agustus.

     

    1. Perumusan Masalah

    Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut:

    1. Sejauhmana efektifitas pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang dilaksanakan di SMK Negeri I Puloampel ?
    2. Sejauhmana pencapaian target kurikulum, daya serap siswa, presensi guru, presensi siswa, prestasi belajar siswa SMK Negeri I Puloampel ?

     

     

     

    1. D. Tujuan dan Signifikansi Penelitian
      1. 1. Tujuan Penelitian

    Dalam pembahasan skripsi ini bertujuan :

    1. Untuk mengetahui efektifitas pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMK Negeri I Puloampel kecamatan Puloampel.
    2. Untuk mengetahui pencapaian target kurikulum, daya serap siswa, presensi guru, presensi siswa dan prestasi belajar yang dicapai dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMK Negeri I Puloampel.

     

    1. 2. Signifikansi Penelitian
      1. Jika penelitian ini dapat diketahui bahwa perencanaan pembelajaran, pengorganisasian kelas, motivasi guru, motivasi orang tua, kedisiplinan antara guru dengan siswa, sistematika pembelajaran kegiatan keagama’an diluar sekolah, supervisi pengawasan serta penilaian dapat menimbulkan/menjadikan masukan bagi dunia pendidikan untuk melakukan perbaikan guna meningkatkan efekktivitas pembelajaran.
      2. Penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi dunia pendidikan dan dunia penelitian khususnya, sejauhmana efektifitas pembelajaran pendidikan agama islam dan peningkatan kualitas guru dalam meningkatkan kompetensi  pembelajaran.

     

     

    1. E. Sistematika Pembahasan

    Dalam penulisan skripsi ini terdiri dari 5 (lima) bab, dan tiap bab terdiri dari beberapa sub-sub bab yang saling berhubungan satu dengan yang lain. Adapun sistematika penyusunannya adalah sebagai berikut :

    BAB l     : Pendahuluan, bab ini terdiri dari latar belakang masalah, identifikasi masalah, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan dan signifikansi penelitian.

    BAB ll    : Landasan Teori Penelitian, bab ini terdiri dari deskripsi   teori, Pengertian Efektivitas, Kriteria Efektivitas Pembelajaran, Pembelajaran, Pengertian Pembelajaran, kerangka berfikir, dan Hipotesis.

    BAB lll   : Metodologis Penelitian, bab ini terdiri dari metode penelitian, populasi dan sampel, teknik penarikan sampel, instrumentasi penelitian, teknik pengumpulan data, dan teknik analisis data.

    BAB IV : Hasil Penelitian, bab ini terdiri dari deskripsi daerah / institusi, deskripsi karakteristik responden, penyajian analisis data, dan interpretasi hasil penelitian.

    BAB V   : Penutup, bab ini meliputi kesimpulan dan rekomendasi.

     

     

     

     

     

    BAB II

    LANDASAN TEORI PENELITIAN

    A.  Deskripsi Teori

    1. 1. Efektivitas
    2. Pengertian Efektivitas

    Definisi efektifitas sangatlah relatif, tergantung pada objek dan lapangannya. Seperti yang dikutip oleh Anwar Jasin dalam buku “Pembelajaran Efektif” dari terjemahan Efektif Teaching Richard Dunne dan Tred Wrag, sungguhpun tidak terlalu mudah merumuskan secara pasti apa yang dimaksudkan dengan istilah “efektif’. Selalu membutuhkan rentangan pengetahuan tentang bahan kajian dan keterampilan yang professional yang luas.[4]

     

    Secara umum efektifitas biasa diartikan dengan mengacu pada suatu kinerja yang dapat diperhatikan melalui hasil kinerja tersebut seperti sempurna, terbaik, dan tercapai yang dijadikan criteria untuk mengukur suatu kinerja yang tepat sasaran.[5] Efektifitas biasa dikaitkan dengan efisiensi yang berarti suatu biaya dan tenaga.[6]

     

    Willie Wijaya mengatakan dalam karya kamusnya bahwa kata efektiif berasal dari bahasa inggris (Effect) yang berarti (akibat).[7]

     

    Demikian pula diungkapkan oleh Poewardarminta dalam kamus besar bahasa indonesia bahwa kata “efektif”  yang mengandung arti “akibat/pengaruh”.[8] Terhadap hasil yang diinginkan dari segi teknis dan waktu.

     

    Lebih luas Poerwadarminta mengungkapkan bahwa kata efektif mengandung beberapa arti, antara lain : “ada efeknya (akibatnya, pengaruhnya, kesannya), manjur/mujarab, dapat membawa hasil/berhasil guna, dan kata efektif juga mulai berlaku”.[9]

     

    Dalam hubungannya dengan pembelajaran, maka efektifitas pembelajaran adalah proses kegiatan pembelajaran atau proses kegiatan belajar mengajar yang sesuai dengan apa yang diinginkan atau pembelajaran yang berhasil guna yang sesuai dengan yang diinginkan sehingga mampu mencapai hasil yang maksimal sesuai dengan yang diharapkan.

     

     

     

    b.  Kriteria Efektifitas Pembelajaran

    Pembelajaran adalah sebuah system, artinya “suatu keseluruhan yang terdiri dari komponen-komponen yang berinterelasi dan berintereraksi antara satu dengan yang lainnya”.[10] Oemar Hamalik membagi  komponen-komponen tersebut meliputi :

    1. Tujuan pendidikan dan pengajaran
    2. Peserta didik atau siswa
    3. Tenaga kependidikan khususnya guru
    4. Perencanaan pembelajaran
    5. Strategi pembelajaran
    6. Media pembelajaran
    7. Evaluasi pembelajaran.[11]

     

    Proses pembelajaran ditandai oleh adanya interaksi antar komponen. Misalnya peserta didik berinteraksi dengan guru, media/metode, atau guru berinteraksi dengan peserta didik, strategi pembelajaran dan sebagainya.

     

    Pada dasarnya “proses pembelajaran dapat terselenggara secara lancar, efesien dan efektif berkat adanya interaksi yang positif, konstruktif, dan produktif antara berbagai komponen yang terkandung didalam system pembelajaran tersebut”.[12]

     

    Kegiatan pembelajaran harus didesain sedemikian rupa agar dapat berjalan secara efektif dan efisien. “Ketika berbicara pembelajaran, maka tidak lepas dari peran dan fungsi guru”.[13] sebagai pengajar atau pendidik “guru merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan setiap upaya pendidikan”.[14] Oleh  karenanya dalam membelajarkan siswa “guru dituntut memiliki multi peran sehingga mampu menciptakan kondisi belajar mengajar yang efektif”.[15]

     

    1. 2. Pembelajaran
    2. Pengertian Pembelajaran

    Pembelajaran diambil dari kata “Belajar”,menurut Muhibbin Syah adalah kegitatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam setiap penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan.” [16]Ini berarti berhail atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu amat bergantung pada proses belajar yang dialami siswa baik ketika disekolah maupun dilingungan rumah atau keluarganya sendiri.

     

    Muhibbin Syah lebih menjelaskan lagi bahwa belajar adalah semata –mata mengumpulkan atau menghafalkan fakta –fakta yang tersaji dalam bentuk informasi atau materi pelajaran.” [17]Dari uraian diatas tersebut, dapat diketahui bahwa belajar adalah merupakan sumber untuk tercapainya tujuan pendidikan, dengan cara memahami segala bentuk informasi maupun materi pada suatu pelajaran yang sedang dihadapi.

     

    Bagne dalam bukunya E Bell Blieder tentang “Belajar Membelajarkan” yang dikutip oleh Abdul Rahman Saleh dalam bukunya “ Madrasah dan Pendidikan Anak Bangsa “ mengungkapkan bahwa “ pembelajaran di artikan sebagai acara dari peristiwa eksternal yang dilakukan siswa.” [18]

     

     

    Belajar adalah sebuah proses perubahan tingkah laku individu melalui iteraksi dengan lingkungan, belajar juga dapat diartikan proses yang melahirkan atau mengubah suatu kegiatan melalui jalan latihan.jadi belajar bukan suatu tujuan tetapi merupakan suatu proses untuk mencapai tujuan.Peristiwa guru mengajar dan siswa belajar merupakan dari peristiwa proses pembelajaran.

     

    Abdul Rahman Saleh mengungkapkan bahwa proses pembelajaran senantiasa dipengaruhi oleh beberapa hal antara lain:

    1. Kompetensi dasar meliputi bukan hanya domain  kognitif saja, melainkan juga domain afektif dan psikomotorik,yang ingin dicapai adalah hasil belajar, yaitu perubahan pada diri anak,dari yang tidak tahu menjadi tahu,dari tidak bersikap menjadidapat menilai atau dapat membedakan, dari tudak dapat melakukan menjadi mempraktikan dan dapat mengerjakannya.
    2. Materi atau bahan ajar, yaitu terstuktur dalam kajian rumpun mata pelajaran, baik meliputi ruang lingkup sekuensial maupun tingkat kesulitannya.
    3. Sumber belajar, untukmenjadikan peristiwa pembelajran yang konsektual artinya relevan, terpilih dan dapat guna sesuai dengan pencapaian kompetensi dasar yang diinginkan.
    4. Media dan fasilitas belajar, termasuk ruang kelas dan penciptaan lingkungan kondusif yang menjadikan peristiwa belajar dinamis dan menyenangkan.
    5. Siswa yang belajar, perlu diperhatikan kemampuan, usia, perkembangan, latar belakang,  motivasi dan kebutuhan siswa.
    6. Guru yang mengelola pembelajaran,yaitu dilihat dari kompetensinya dalamteknik mengajar kebiasaannya, pandangan hidup, latar belakang pendidikan, dan kerjasama dengan teman seprofesi sesama guru.”[19]

     

    Pembelajaran merupakan bagin yang terpenting dalam proses pendidikan dapat diartikan sebagai  usaha yang dilakukan dengan sengaja dan sistematis untuk mendorong, membantu serta membimbing seseorang dalam mengembangkan segala potensinya.

     

    Dari pengertian diatas, pendidikan mengandung pengertian yang lebih luas dari pengajaran, pengajaran hanya menitikberatkan pada usaha mengembangkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor, sedangkan pendidikan bertugas mengembangkan seluruh aspek kepribadian setiap manusia.Dari uraian ini dapat di mengerti bahwa” pengajaran merupakan bagian dari pendidikan.”

     

    1. 3. Pendidikan Agama Islam
      1. Pengertian Pendidikan Agama Islam

    Sebelum membahas pengertian pendidikan Agama Islam, penulis akan terlebih dahulu mengemukakan arti pendidikan pada umumnya. Istilah pendidikan berasal dari kata didik dengan memberinya awalan “pe” dan akhiran “kan” mengandung arti perbuatan (hal, cara,   dan sebagainya). Istilah pendidikan ini semula berasal dari bahasa Yunani, yaitu paedagogie,  yang berarti bimbingan yang diberikan kepada anak. Istilah ini kemudian diterjemahkan ke dalam  bahasa Inggris dengan education yang berarti pengembangan atau bimbingan. Dalam   Arab istilah ini sering diterjemahkan dengan tarbiyah, yang berarti pendidikan”. 17 Ahmad D. Marimba mengatakan bahwa pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan yang dilakukan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju   terbentuknya  kepribadian yang utama. [20]

     

    Sedangkan menurut Ki Hajar Dewantara pendidikan yaitu tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, adapun maksudnya pendidikan yaitu menuntun kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat  dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagian yang setinggi-tingginya. [21]

     

    Dari semua definisi itu dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah sebuah kegiatan yang dilakukan dengan sengaja dan terencana yang dilaksanakan oleh orang dewasa yang memiliki ilmu dan keterampilan kepada anak didik, demi terciptanya insan kamil.

     

    Dari semua definisi itu dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah sebuah kegiatan yang dilakukan dengan sengaja dan terencana yang dilaksanakan oleh orang dewasa yang memiliki ilmu dan keterampilan kepada anak didik, demi terciptanya insan kamil.

     

    Pendidikan yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah pendidikan agama Islam. Adapun kata Islam dalam istilah pendidikan Islam menunjukkan sikap pendidikan tertentu yaitu pendidikan yang memiliki warna-warna Islam. Untuk memperoleh gambaran yang mengenai pendidikan agama Islam, berikut ini beberapa defenisi mengenai pendidikan Agama Islam. Menurut hasil seminar pendidikan agama Islam se Indonesia tanggal 7-11 Mei 1960 di Cipayung Bogor menyatakan: Pendidikan agama Islam adalah bimbingan terhadap pertrumbuhan jasmani dan rohani menurut ajaran Islam dengan hikmah mengarahkan, mengajarkan, melatih, mengasuh, dan mengawasi berlakunya semua ajaran Islam.” [22]

     

    Sedangkan menurut Ahmad Marimba, pendidikan Agama Islam adalah bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju kepada terbentuknya  kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam. “[23]

     

    Sedangkan menurut Zakiah Daradjat, pendidikan Agama Islam adalah: pendidikan dengan melalui ajaran-ajaran agama Islam, yaitu berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar nantinya setelah selesai dari pendidikan ia dapat memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran-ajaran agama Islam yang telah di yakininya secara menyeluruh, serta menjadikan ajaran agama Islam itu sebagai suatu pandangan hidupnya demi keselamatan dan kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat kelak.” [24]

    Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan Agama Islam adalah suatu proses bimbingan jasmani dan rohani yang berlandaskan ajaran Islam dan dilakukan dengan kesadaran untuk mengembangkan potensi anak menuju perkembangan yang maksimal, sehingga terbentuk kepribadian yang memiliki nilai –   nilai dasar.

     

    1. Dasar-Dasar dan Tujuan Pendidikan Agama Islam

    Dasar atau fundamen dari suatu bangunan adalah bagian dari bangunan yang menjadi sumber kekuatan dan keteguhan tetap berdirinya bangunan itu. Pada suatu pohon dasar itu adalah akarnya. Fungsinya sama dengan fundamen tadi, mengeratkan berdirinya pohon itu. Demikian fungsi dari bangunan itu. Fungsinya ialah menjamin sehingga “bangunan” pendidikan itu teguh berdirinya. Agar usaha-usah yang terlingkup di dalam kegiatan pendidikan mempunyai sumber keteguhan, suatu sumber keyakinan: Agar jalan menuju tujuan dapat tegas dan terlihat, tidak mudah di sampingkan oleh pengaruh – pengaruh luar. Singkat dan tegas dasar pendidikan Islam ialah Firman Tuhan dan sunah Rasulullah SAW. “Kalau pendidikan diibaratkan bangunan maka isi al-Qur’an dan haditslah yang menjadi fundamen.Dasar-dasar pendidikan agama Islam dapat ditinjau dari beberapa segi, yaitu:

     

    1. Dasar Religius

    Menurut Zuhairini, yang dimaksud dengan dasar religius adalah dasar-dasar yang bersumber dari ajaran agama Islam yang tertera dalam al-Qur’an maupun alhadits. Menurut ajaran Islam, bahwa melaksanakan pendidikan agama Islam adalah merupakan perintah dari Tuhan dan merupakan ibadah kepada-Nya.” [25]

    2. Dasar Yuridis Formal

    Menurut Zuhairini dkk, yang dimaksud dengan Yuridis Formal pelaksanaan pendidikan agama Islam yang berasal dari perundang-undangan yang secara langsung

    atau tidak langsung dapat dijadikan pegangan dalam melaksanakan pendidikan agama

    Islam, di sekolah-sekolah ataupun di lembaga-lembaga pendidikan formal di Indonesia.

     

    3. Dasar Ideal

    Yang dimaksud dengan dasar ideal yakni dasar dari falsafah Negara:

    Pancasila, dimana sila yang pertama adalah ketuhanan Yang Maha Esa. Ini mengandung pengertian, bahwa seluruh bangsa Indonesia harus percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, atau tegasnya harus beragama.[26]

     

    4. Dasar Konsitusional/Struktural

    Yang dimaksud dengan dasar konsitusioanl adalah dasar UUD tahun 2002 Pasal 29 ayat 1 dan 2, yang berbunyi sebagai berikut:

    Negara berdasarkan atas Tuhan Yang Maha Esa

    Negara menjamin tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya  asingmasing

    dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaannya. [27]

     

    Bunyi dari UUD di atas mengandung pengertian bahwa bangsa Indonesia harus beragama, dalam pengertian manusia yang hidup di bumi Indonesia adalah orang-orang yang mempunyai agama. Karena itu, umat beragama khususnya umat Islam dapat menjalankan agamanya sesuai ajaran Islam, maka diperlukan adanya pendidikan agama Islam.

     

    5. Dasar Operasional

    Yang dimaksud dengan dasar operasional adalah dasar yang secara langsung mengatur pelaksanaan pendidikan agama Islam di sekolah-sekolah di Indonesia.

    Menurut Tap MPR nomor IV/MPR/1973. Tap MPR nomor IV/MPR/1978 dan Tap MPR nomor II/MPR/1983 tentang GBHN,” yang pada pokontya dinyatakan bahwa pelaksanaan pendidikan agama secara langsung dimasukkan kedalam kurikulum sekolah-sekolah, mulai dari sekolah dasar sampai dengan universitasuniversitas negeri.[28] Atas dasar itulah, maka pendidikan agama Islam di Indonesia memiliki status dan landasan yang kuat dilindungi dan didukung oleh hukum serta peraturan perundang-undangan yang ada.

     

    6. Dasar Psikologis

    Yang dimaksud dasar psikologis yaitu dasar yang berhubungan dengan aspek kejiwaan kehidupan bermasyarakat. Hal ini didasarkan bahwa dalam hidupnya, manusia baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat dihadapkan pada hal-hal yang membuat hatinya tidak tenang dan tidak tentram sehingga memerlukan adanya pegangan hidup.”[29]

     

    Semua manusia yang hidup di dunia ini selalu membutuhkan pegangan hidup yang disebut agama, mereka merasakan bahwa dalam jiwanya ada sutu perasaan yang

    mengakui adanya Zat Yang Maha Kuasa, tempat untuk berlindung, memohon dan tempat mereka memohon pertolongan. Mereka akan merasa tenang dan tentram hatinya apabila mereka dapat mendekatkan dirinya kepada Yang Maha Kuasa. Dari uaraian di atas jelaslah bahwa untuk membuat hati tenang dan tentram ialah dengan jalan mendekatkan diri kepada Tuhan.

     

    Pendidikan adalah suatu proses dalam rangka mencapai suatu tujuan, tujuan pendidikan akan menentukan kearah mana peserta didik akan dibawa. Tujuan pendidikan juga dapat membentuk perkembanagan anak untuk mencapai tingkat  edewasaan, baik bilogis maupun pedagogis.

     

    Pendidikan agama Islam di sekolah bertujuan untuk menumbuhkan dan meningkatkan keimanan melaui pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan, pengamalan serta pengalaman peserta didik tentang agama Islam sehingga mejadi manusia muslim yang terus berkembang dalam hal keimanan, ketaqwaannya, berbangsa dan bernegara, serta untuk  dapat melanjutkan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi (kurikulum PAI: 2002) [30]

     

    Menurut Zakiah Daradjat Tujuan ialah suatu yang diharapkan tercapai setelah sesuatu usaha atau kegiatan selesai. Tujuan pendidikan bukanlah suatu benda yang berbentuk tetap dan statis, tetapi ia merupakan suatu keseluruhan dari kepribadian seseorang, berkenaan dengan seluruh aspek kehidupannya, yaitu kepribadian seseorang yang membuatnya menjadi “insan kamil” dengan pola taqwa. Insan kamil artinya manusia utuh rohani dan jasmani, dapat hidup berkembang secara wajar dan normal karena taqwanya kepada Allh SWT. [31]

     

    Sedangkan Mahmud Yunus mengatakan bahwa tujuan pendidikan agama adalah mendidik anak-anak, pemuda-pemudi maupun orang dewasa supaya menjadi seorang muslim sejati, beriman teguh, beramal saleh dan berakhlak mulia, sehingga ia menjadi salah seorang masyarakat yang sanggup hidup di atas kakinya sendiri, mengabdi kepada Allah dan berbakti kepada bangsa dan tanah airnya, bahkan sesame umat manusia. [32]

     

    Sedangkan Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa tujuan pendidikan Islam yang paling utama ialah beribadah dan taqarrub kepada Allah, dan kesempurnaan insani yang tujuannya kebahagiaan dunia akhirat.[33]

     

    Adapun Muhammad Athiyah Al-Abrasy merumuskan bahwa tujuan pendidikan Islam  adalah mencapai akhlak yang sempurna. Pendidikan budi pekerti dan akhlak adalah jiwa pendidikan Islam, dengan mendidik akhlak dan jiwa mereka, menanamkan rasa fadhilah (keutamaan), membiasakan mereka dengan kesopanan yang tinggi, mempersiapkan mereka untuk suatu kehidupan yang suci seluruhnya ikhlas dan jujur. Maka tujuan pokok dan terutama dari pendidikan Islam ialah mendidik budi pekerti dan pendidikan jiwa.[34]

    Tujuan yaitu sasaran yang akan dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang yang melakukan sesuatu kegiatan. Karena itu pendidikan Islam, yaitu sasaran yang akan dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang yang melaksanakan pendidikan Islam.

     

    Tim penyusun buku Ilmu Pendidikan Islam mengemukakan bahwa tujuan pendidikan Islam ada 4 macam, yaitu:

    1. Tujuan Umum

    Tujuan umum ialah tujuan yang akan dicapai dengan semua legiatan pendidikan, baik dengan pengajaran atau dengan cara yang lainnya. Tujuan ini meliputi aspek kemanusiaan seperti: sikap, tingkah laku, penampilan, kebiasaan dan pandangan. Tujuan umum ini berbeda pada tingkat umur, kecerdasan, situasi dan kondisi, dengan kerangka yang sama. Bentuk insan kamil dengan pola takwa kepada Allah harus tergambar dalam pribadi sesorang yang sudah terdidik, walaupun dalam ukuran kecil dan mutu yang rendah, sesuai dengan tingkah-tingkah tersebut.

     

    2. Tujuan Akhir

    Pendidikan Islam ini berlangsung selama hidup, maka tujuan kahir akhirnya terdapat pada waktu hidup di dunia ini telah berakhir. Tujuan umum yang berbentuk Insan Kamil dengan pola takwa dapat menglami naik turun, bertambah dn berkurang dalam perjalanan hidup seseorang. Perasaan, lingkungan dan pengalaman dapat mempengaruhinya. Karena itulah pendidikan Islam itu berlaku selama hidup untuk menumbuhkan, memupuk, mengembangkan,memelihara dan memperthankan tujuan pendidikan yang telah dicapai.

    3. Tujuan Sementara

    Tujuan sementara ialah tujuan yang akan dicapai setelah anak didik diberi sejumlah pengalaman tertentu yang direncanakan dalam suatu kurikulum pendidikan formal. Tujuan operasional dalam bentuk tujuan instruksional yang dikembangkan menjadi Tujuan Instruksional umum dan Tujuan Instruksioanl Khusus (TIU dan TIK).

    4. Tujuan Operasional

    Tujuan operasional ialah tujuan praktis yang akan dicapai dengan sejumlah kegiatan pendidikan tertentu. Satu unit kegiatan pendidikan denganbahan-bahan yang sudah dipersiapkan dan diperkirakan akan mencapai tujuan tertentu disebut tujuan operasional. Dalam pendidikan formal, tujuan ini disebut juga tujuan instruksional yang selanjutnya dikembangkan menjadi Tujuan Instruksional umum dan Tujuan Instruksional Khusus (TIU dan TIK). Tujuan instruksioanal ini merupakan tujuan pengajaran yang direncanakan dalam unit kegiatan pengajaran.[35]

     

    Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan agama Islam adalah membimbing dan membentuk manusia menjadi hamba Allah yang saleh, teguh imannya, taat beribadah dan berakhlak terpuji. Jadi, tujuan pendidikan agama Islam adalah berkisar kepada pembinaan pribadi muslim yang terpadu pada perkembangan dari segi spiritual, jasmani, emosi, intelektual dan social. Atau lebih jelas lagi, ia berkisar pada pembinaan warga Negara muslim yang baik, yang percaya pada Tuhan dan agamanya, berpegang teguh pada ajaran agamanya, berakhlak mulia, sehat jasmani dan rohani. Oleh karena itu berbicara pendidikan agama Islam, baik makna maupun tujuannya haruslah mengacu pada penanaman nilai-nilai Islam dan tidak dibenarkan melupakan etika sosial atau moralitas sosial.   Penanaman nilai-nilai ini juga dalam rangka menuai keberhasilan hidup (hasanah) di dunia bagi anak-anak didik yang kemudian akan mampu membuahkan kebaikan (hasanah) diakhirat kelak. Dengan demikian tujuan pendidikan merupakan pengamalan nilai-nilai Islami yang hendak diwujudkan dalam pribadi muslim melalui proses akhir yang dapat membuat peserta didik memiliki kepribadian Islami yang beriman, bertakwa dan berilmu pengetahuan.

     

    c. Ruang Lingkup Pendidikan Agama Islam

    Pendidikan Islam sebagai ilmu, mempunyai ruang lingkup yang sangat luas, karena di dalamnya banyak pihak yang terlibat, baik secara langsung maupun tidak langsung. Adapun ruang lingkup pendidikan Islam adalah sebagai berikut:

    1. Perbuatan mendidik itu sendiri

    Yang dimaksud dengan perbuatan mendidik adalah seluruh kegiatan, tindakan atau perbuatan dari sikap yang dilakukan oleh pendidikan sewaktu mengasuh anak didik. Atau dengan istilah yang lain yaitu sikap atau tindakan menuntun, mebimbing, memberikan pertolongan dari seseorang pendidik kepada anak didik menuju kepada    ujuan pendidikan Islam.

     

     

     

    2. Anak didik

    Yaitu pihak yang merupkan objek terpenting dalam pendidikan. Hal ini disebabkan perbuatan atau tindakan mendidik itu diadakan untuk membawa anak didik kepada  ujuan pendidikan Islam yang kita cita-citakan.

    3. Dasar dan Tujuan Pendidikan Islam

    Yaitu landasan yang menjadi fundamen serta sumber dari segala kegiatan pendidikan Islam ini dilakukan. Yaitu ingin membentuk anak didik menjadi manusia dewasa yang bertakwa kepada Allah dan kepribadian muslim.

    4. Pendidik

    Yaitu subjek yang melaksanakan pendidikan Islam. Pendidik ini mempunyai peranan penting untuk berlangsungnya pendidikan. Baik atau tidaknya pendidik berpengaruh besar terhadap hasil pendidikan Islam.

    5. Materi Pendidikan Islam

    Yaitu bahan-bahan, pengalaman-pengalaman belajar ilm agama Islam yang disusun sedemikian rupa untuk disajikan atau disampaikan kepada anak didik.

    6. Metode Pendidikan Islam

    Yaitu cara yang paling tepat dilakukan oleh pendidikan untuk menyampaikan bahan atau materi pendidikan Islam kepada anak didik. Metode di sini mengemukakan bagaimana mngolah, menyusun dan menyajikan materi tersebut dapat dengan mudah diterima dan dimiliki oleh anak didik.

    7. Evaluasi Pendidikan

    Yaitu memuat cara-cara bagaimana mengadakan evaluasi atau penilaian terhadap hasil belajar anak didik. Tujuan pendidika Islam umumnya tidak dapat dicapai sekali \gus, melainkan melaui proses atau pentahapan tertentu. Apabila tahap ini telah tercapai maka pelaksanaan pendidikan dapat dilanjutkan pada tahap berikutnya dan berakhir enga terbentuknya kepribadian muslim.

    8. Alat-alat Pendidikan Islam

    Yaitu alat-alat yang dapat digunakan selama melaksanakan pendidikan Islam agar tujuan pendidikan Islam tersebut lebih berhasil.

    9. Lingkungan

    Yaitu keadaan-keadaan yang ikut berpengaruh dalam pelaksanaan serta hasil pendidikan Islam.

    Dari uaraian di atas dapat disimpulkan bahwa ruang lingkup pendidikan Islam itu sangat luas, sebab meliputi segala asapek yang menyangkut penyelenggaraan pendidikan Islam.

    Istilah pendidikan dalam pendidikan Islam kadang-kadang disebut Al-a’lim. Al-Ta’lim biasanya diterjemahkan dengan “pengajaran”. Ia kadang-kadang disebut dengan al-ta’dib. Al-ta’dib secara etimologi diterjemahkan dengan perjamuaan makan atau pendidikan sopan santun. Sedang al-Ghojali menyebut pendidikan dengan Al-riyadhat. Al-riyadhat dalam arti bahasa diterjemahkan dengan olah raga atau pelatihan.

    Kata Al-tarbiyah memiliki tiga akar kebahasaan yaitu:

    1. ﺭﺒﺎﻳﺭﺒﻭﺘﺭﺒﻳﺔ : yang memiliki arti tambahan (zat) dan berkembang (nama). Pengertian ini didasarkan atas Q.S Al-Ruum ayat 39

    Artinya: “Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, Maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, Maka (yang berbuat demikian) Itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya)”[36]

    2 .            ﺭﺒﻲﺘﺭﺒﻳﺔﻳﺭﺒﻲ : yang memiliki arti tumbuh (nasya’) dan   menjadi besar (tara- ra’a).

    3.         ﺭﺏ–      ﻳﺭﺒﻲ –   ﺘﺭﺒﻳﺔ : yang memiliki arti memperbaiki (asbalaba), menguasai urusan, memelihara, merawat, menunaikan, memperindah, memberi makan, mengasuh, tuan, memiliki, mengatur dan menjaga kelestarian dan eksistensinya.

     

    Pengertian Pendidikan Islam secara terminologi, menurut beberapa para  hli yaitu:

    Mustafa al-maraghiy membagi kegiatan al-tarbiyah dengan dua macam. Pertama, Tarbiyah Khalkiyah yaitu penciptaan, pembinaan dan pengembangan jasmani peserta didik agar dapat dijadikan sebagai sarana bagi pengembangan jiwanya. Kedua, Tarbiyah diniyah tahzibiyat, yaitu pembinaan jiwa manusia dan kesempurnaannya melalui petunjuk Ilahi. Berdasarkan pembagian, maka ruang lingkup at-tarbiyah mencakup berbagai kebutuhan manusia, baik kebutuhan dunia dan akhirat, serta kebutuhan terhadap kelestariaan diri sendiri, sesamanya, alam lingkungan dan relasinya dengan Tuhan.

    Al-Abrasi memberikan pengertian bahwa pendidikan Islam adalah mempersiapkan manusia supaya hidup dengan sempurna dan bahagia, mencintai tanah air, tegap jasmaninya, mahir dalam pekerjaan, manis tutur katanya baik dengan lisan maupun tulisan.

     

    Marimba juga memberikan pengertian bahwa pendidikan Islam adalah bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hokum-hukum agama Islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam[37]

     

    1. Kerangka Berfikir

    Pelaksanaan program apapun tentu harus didasari dengan konse dasar dan tujuan yang biasanya dituangkan dalam visi dan misi. Setelah adanya rukun kegiatan tersebt, baru mencari teori dan sistem yang akan dalam upaya mencapai tujuan. Oleh karenanya bahwa efektivitas adalah kunci kesuksesan dalam melaksanakan kegiatan, dan dalam zaman modern ini banyak kegiatan itu harus dilakukan secara efektif karena tidak lagi suatu pekerjaan itu dilakukan secara tradisional tetapialat bantu mesin sudah semakin canggihnya dlam berbagai aspek semata – mata untuk membantu manusia yang tak lain adalah meningkatkan efektivitas kerja.

    Ciri – ciri untuk diamakan dinamis dan maju tentu harus diadakan kaji ulang secara terus menerus untuk mencari kelemahan – kelemahan yang selalu menghambat dan seterusnya untuk diperbaiki sebagai hasil dari evaluasi yang secara periodik dilakukan. Upaya efektivitas tentu akan berdampak pada efisiensi. Sehingga dari keduanya akan enghemat biaya, tenaga dan waktu.

     

    1. Hipotesis

    Untuk dapat mengetahui jawaban sementara dari sebuah penelitian maka perlu yang namanya hipotesis, menurut husein umar “Hipotesis adalah perumusan sementara mengenai suatu hal itu dapat menuntun/mengarahkan penyelidikan selanjutnya”.[38]

    Dimana fungsi dari hipotesis itu sendiri sebagai petunjuk kearah pemecahan masalah diatas, maka penulis menyatakan hipotesis (dugaan sementara). EFEKTIFITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMK NEGERI I PULOAMPEL SERANG BANTEN = 75% dari kriteria ideal yang ditetapkan.

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     


    [1] Asep Heri Hermawan, Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran (Jakarta Universitas Terbuka, 2008) h. 7.23

    [2] Jaap Scheerens, Peningkatan Mutu Sekolah (Jakarta, Logos Wacana Ilmu 2003) h.9

    [3] Wina Sanjaya, Pembelajaran Dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi (Jakarta, Kencana Prenada Media, 2005) h.104

    [4] Anwar Jasin dalam buku “Pembelajaran Efektif” dari terjemahan Efektif Teaching Richard Dunne dan Tred Wrag

    [5] Jaap Scrheerens, Menjadikan Sekolah Efektif (Jakarta,Logos 2003) Cet Ke-1, h,5

    [6] Muhibbin Syah Psikologi Belajar ( Jakarta Raja Grapindo, 2004) h.134

    [7] Willie Wijaya Kamus Inggris Indonesia ( Surakarta, Alhadi, 2002) h. 69

    [8] Poewardaminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta, PT.Balai Pustaka, 2003). H, 13

    [9] Ibid, h. 13

    [10] Oemar malik Proses Belajar Mengajar (Bandung, Bumi Aksara, 2001) h. 77

    [11] Ibid, h.78

    [12] Abdul Majid Perencanaan Pembelajaran (Bandung, PT Remaja Rosdakarya, 2007) h. 3

    [13] Loc. Cit

    [14] Moh. Uzer Usman Menjadi Guru Profesional (Bandung, PT Remaja Rosdakarya, 1996)h.5

    [15] Ibid, H. 5

    [16] Muhibbin Syah Psikologi Belajar ( Jakarta Raja Grapindo, 2004) h.134

    [17] Ibid, H. 5

    [18] Abdul Rahman Saleh  Madrasah dan Pendidikan Anak Bangsa (Bandung, PT Remaja Rosdakarya, 2007) h.3

    [19] Abdul Rahman Saleh  Madrasah dan Pendidikan Anak Bangsa (Bandung, PT Remaja Rosdakarya, 2007) h.3

    [20] Prof. DR. H. Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2004) Cet ke-4, h. 1

    [21] Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: PT. Al-maarif,

    1981), cet ke-5, h. 19

    [22] Dra. Hj. Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 1998), Cet.

    ke-2, h. 11

    [23] Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: PT. Al-maarif,

    1981), cet ke-5, h. 19

    [24] Dr. Zakiah Daradjat, dkk, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta:Bumi Aksara, 1992), cet ke-2,

    h. 8613

    [25] Dra. Zuhairini, Drs. Abdul Ghofir, Drs. Slamet As. Yusuf, Metodik Khusus Pendidikan

    Agama (Surabaya: biro Ilmiah fakultas tarbiyah IAIN Sunan Ampel Malang), Cet ke-8, h. 2

    [26] Ibid, h. 22

    [27] Ibid, h. 22

    [27] Ibid, h. 22

    [29] Ibid, h. 23

    [30] Abdul majid, S.Ag, Dian Andayani, Spd. Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi,

    (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2004) Cet. Ke-1, h. 135

    [31] Dr. Zakiah Daradjat, dkk, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1992) Cet ke-2,

    h. 29

    [32] Prof. DR. H. Mahmud Yunus, Metode Khusus Pendidikan Agama, (Jakarta: PT. Hidakarya

    Agung, 1983), h. 13

    [33] Prof. DR. H. Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam , h. 71-72

    [34] Muhammad Athiyyah al-Abrasy, Dasar-dasar Pokok Pendidikan islam , terjemahan

    [35] Dra. Hj. Nur Uhbyati, h. 60-61

    [36] Husein Umar Riset Sumber Daya Manusia Dalam Organisasi cetakan ketujuh PT. Gramedia Pustaka Utama Jakarta 2005, Hal 168

    [37] Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: PT. Al-maarif,

    1981), cet ke-5, h. 19

    [38] Husein Umar Riset Sumber Daya Manusia Dalam Organisasi cetakan ketujuh PT. Gramedia Pustaka Utama Jakarta 2005, Hal 168

    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

     
    %d blogger menyukai ini: