Starawaji's Blog

Jadikan sabar dan sholat sebagai penolongmu

  • DOWNLOAD FULL APLIKASI

  • Tranlate language

  • Terima kasih kunjungannya

  • pengunjung

  • Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

    Bergabunglah dengan 24 pengikut lainnya

  • Bookmark and Share
  • counter

  • para komentator

    alghazaliefarizi di Agama terdiri dari dua ba…
    Umar rahman di Lowongan kerja Pt. Yasunaga…
    komarudin di Lowongan kerja Pt. Yasunaga…
    sakad di Lowongan kerja Pt. Yasunaga…
    Muhammad Habibie di Islam dan perkembangan zaman d…
    Abdul Kholiq Hasan di Pengertian Kedisiplinan
    kapten pergerakan di PENGERTIAN TATA TERTIB
    Sukarno Putra Naga di pt.yasunaga pt. nippon seiki b…
    hariri wahyudi di METODE MENGAJAR PENDIDIKAN…
    Febri jaka hendra di Lowongan kerja Pt. Yasunaga…
    suefah di Lowongan kerja Pt. Yasunaga…
    nurrachman di Jumlah huruf dalam Al Qur…
    Faizal di Lowongan kerja Pt. Yasunaga…
    HABIB ATHOILLAH di Faktor-faktor yang mempengaruh…
    Ari Waluyo di Lowongan kerja Pt. Indonesia N…
  • Tulisan Teratas

  • RSS indoforum

  • RSS berita aktual

  • RSS liputan 6

  • NimbuZZ

    Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

  • Add to Technorati Favorites
  • depdiknas

  • twitter

  • Top Rated

  • Benarkah Bumi dalam Bahaya?

    Posted by starawaji pada November 24, 2009

    Film 2012 yang menggambarkan
    terjadinya akhir peradaban
    manusia memang cukup
    mengerikan. Cerita film yang
    didasarkan pada prediksi suku
    bangsa Maya yang hidup sekitar
    2600 SM tentang akan adanya
    gempa besar pada 21 Desember
    2012 mengundang banyak
    prediksi tentang masa depan
    bumi. Terlepas dari berbagai
    prediksi tersebut, benarkah bumi
    sekarang menuju
    kehancurannya? Dan bisakah kita
    mengatasinya?
    Salah satu fenomena yang
    sekarang sedang terjadi adalah
    global warming, fenomena ini
    bukan lagi suatu opini tapi
    merupakan realitas yang
    mengancam masa depan bumi.
    Pemanasan bumi secara global
    disebabkan adanya efek rumah
    kaca. Efek rumah kaca adalah
    proses terperangkapnya sinar
    infra merah di atmosfer karena
    adanya gas-gas rumah kaca
    seperti metana, karbondioksida,
    nitrous oksida, ozon, CFCs dll.
    Secara alami gas-gas ini sudah
    ada dengan sendirinya sebagai
    penghangat bumi, tetapi seiring
    dengan dimulainya era
    industrialisasi volume gas-gas ini
    terus terakumulasi di atmosfer
    tanpa bisa dinetralisir oleh proses
    alamiah. Di masa sebelum era
    industrialisasi dan masih
    banyaknya hutan di bumi
    sebagian CO2 dinetralisir dalam
    proses fotosintesis tanaman.
    Pada tanggal 7-18 Desember
    2009 para pemimpin dunia, para
    aktivis lingkungan dan lembaga-
    lembaga terkait akan berkumpul
    di Copenhagen, Denmark untuk
    merumuskan suatu draft yang
    diharapkan bisa membatasi efek
    pemanasan global. Draft ini
    diharapkan bisa menggantikan
    protokol Kyoto yang akan
    berakhir tahun 2012. China dan
    Amerika adalah dua negara
    penghasil CO2 terbesar saat ini,
    sehingga komitmen dari dua
    negara ini akan mempengaruhi
    masa depan planet bumi.
    Mengurangi emisi CO2 bagi
    negara industri memang seperti
    simalakama yang akan
    mengurangi laju industrialisasi
    dan pertumbuhan ekonomi.
    Sebagai gambaran berdasarkan
    data yang dirilis US Department of
    Energy’s Oak Ridge National Lab,
    China yang terus
    mengembangkan industrinya
    menghasilkan penambahan 490
    Mega ton CO2 dari tahun 2007 ke
    2008. Pada tahun 2007 China
    menghasilkan sekitar 3 Giga ton
    CO2.
    Menurut Gregy Markind sejak
    tahun 1982 karbondioksida yang
    sudah dikeluarkan ke atmosfer
    karena proses industrialisasi
    sekitar 715,3 triliun ton. Sejak era
    industrialisasi konsentrasi CO2 di
    atmosfer meningkat dari 280
    ppm menjadi 387 ppm dan
    membuat suhu bumi naik sekitar
    2 C. The UN Intergovernmental
    panel on Climate Change
    memprediksi pada tahun 2100
    suhu bumi akan naik sekitar 4 C
    dibanding sekarang. Efek yang
    sudah dirasakan saat ini antara
    lain terus mencairnya lapisan es
    abadi di berbagai pegunungan,
    dan menipisnya lapisan es di
    Antartika sampai sekitar 40
    persen dalam 40 tahun terakhir
    dan naiknya permukaan air laut
    tiga kali lebih cepat, dalam kurun
    waktu 100 tahun terakhir. Hal ini
    menyebabkan berbagai bencana
    di seluruh permukaan bumi.
    Lalu adakah hubungan antara
    pemanasan global dengan gempa
    besar? Hal ini masih menjadi
    perdebatan, tapi ada suatu
    pendapat yang menyatakan jika
    es di kutub terus mencair, maka
    volume air di lautan akan semakin
    bertambah, hal ini menyebabkan
    tekanan air ke dasar permukaan
    lautan semakin besar. Jika perut
    bumi banyak berongga yang
    diakibatkan oleh eksplorasi
    minyak, gas dan bahan tambang
    lain, maka rongga ini akan pecah
    dan menyebabkan gempa yang
    akan memicu gempa lain yang
    lebih besar yang disebabkan
    pergerakan lempeng
    antarbenua.
    Beberapa solusi untuk mengatasi
    global warming sudah dilakukan.
    Misalnya saja usulan oleh ilmuan
    untuk menyimpan sejumlah
    besar gas sulfur di stratosfer
    bumi, strafosfer berjarak antara
    10-50 km dari permukaan bumi.
    Konsepnya gas sulfur diharapkan
    bereaksi dengan uap air dan
    membentuk awan asam sulfat
    yang nantinya dapat
    memantulkan kembali sinar
    matahari yang menuju bumi.
    Tetapi konsep ini mempunyai
    banyak kelemahan antara lain
    karena asam sulfat yang
    membahayakan kehidupan di
    bumi itu sendiri. Solusi lain yang
    diusulkan adalah dengan
    pembentukan garam NaCL di
    troposphere dengan cara
    menyemprotkan air laut ke
    angkasa. Konsep ini juga
    ditujukan supaya garam NaCl
    yang terbentuk bisa menghalangi
    sebagian sinar matahari yang
    mengarah ke bumi. Konsep lain
    bahkan lebih radikal yaitu dengan
    menempatkan banyak piringan-
    piringan kecil diluar angkasa untuk
    mengurangi sinar matahari yang
    menuju bumi.
    Selain solusi pengurangan sinar
    matahari yang menuju bumi,
    dikembangkan juga teknologi
    untuk menyerap karbondioksida
    yang dikenal dengan metode CCS,
    Carbon Capture and Storage.
    Diantaranya teknologi penyerapan
    CO2 dengan metode amine
    scrubbing yang sudah
    dikembangkan sejak tahun 1930.
    Gary T Rochelle menggunakan
    20% Monoethanolamin untuk
    menyerap CO2. CO2 yang
    dihasilkan di kompres dan
    digunakan untuk geological
    sequestration, penyimpanan
    didalam perut bumi dalam proses
    pengambilan minyak dan gas
    alam.
    Salah satu sumber utama emisi
    CO2 adalah energi fosil seperti
    minyak bumi dan batu bara. Saat
    ini sekitar 80% sumber energi
    yang dipakai bersumber dari
    energi fosil, 25% nya adalah batu
    bara yang notabene merupakan
    40% penyumbang emisi karbon
    dioksida. Untuk mengurangi
    penggunaan energi fosil, para
    ilmuan sekarang sedang
    mengembangkan berbagai
    macam energi terbarukan seperti
    biosolar, bioetanol, biogas, fuelcell
    dll. Di Indonesia perkembangan
    biodiesel sebagai pengganti solar
    dan bioetanol sebagai pengganti
    bensin masih terus
    dikembangkan. Khusus untuk
    bioetanol yang dibuat dari jagung
    atau singkong dianggap bukan
    solusi jangka panjang karena akan
    bersaing dengan kebutuhan
    pangan. Oleh karena itu sekarang
    sedang dikembangkan pula
    bioetanol dari sumber selulosa
    seperti rumput-rumputan dan
    kayu yang dikenal sebagai
    bioetanol generasi ke-2. Salah satu
    kelemahan energi ini adalah cukup
    mahal dibanding harga bahan
    bakar sekarang. Beberapa sumber
    energi alternatif lain yang memiliki
    sumber melimpah juga terus
    dikembangkan diantaranya adalah
    energi angin; energi air yaitu
    hidroelektrik, gelombang,
    geothermal; dan energi matahari.
    Sumber-sumber energi ini
    diharapkan mampu
    menggantikan energi fosil dalam
    jangka panjang.
    Pencemaran bumi dari berbagai
    aktivitas manusia memang sulit
    dihentikan dan inilah yang
    menyebabkan bumi kita dalam
    bahaya jka tidak segera diatasi.
    Bagaimanapun dengan proses-
    proses pencegahan yang sudah
    dilakukan diharapkan perusakan
    bumi bisa diperlambat. Selain
    komitmen yang kuat dari negara-
    negara industri yang akan
    merumuskan masa depan bumi
    di Copenhagen pada Desember
    nanti, kita juga dapat
    menyumbangkan solusi
    sederhana yaitu dengan
    menanam pohon. Jika dari sekitar
    220 juta penduduk Indonesia,
    50% nya menanam satu atau dua
    pohon tentu akan memberikan
    dampak yang cukup signifikan
    dalam penyerapan
    karbondioksida dan mengurangi
    beban bumi dari kerusakan yang
    lebih parah.
    Roni Maryana
    Peneliti bidang Kimia pada
    UPT BPPTK LIPI (Research
    Student di Keio University,
    Jepang)

    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

     
    %d blogger menyukai ini: