Starawaji's Blog

Jadikan sabar dan sholat sebagai penolongmu

  • DOWNLOAD FULL APLIKASI

  • Tranlate language

  • Terima kasih kunjungannya

  • pengunjung

  • Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

    Bergabunglah dengan 24 pengikut lainnya

  • Bookmark and Share
  • counter

  • para komentator

    alghazaliefarizi di Agama terdiri dari dua ba…
    Umar rahman di Lowongan kerja Pt. Yasunaga…
    komarudin di Lowongan kerja Pt. Yasunaga…
    sakad di Lowongan kerja Pt. Yasunaga…
    Muhammad Habibie di Islam dan perkembangan zaman d…
    Abdul Kholiq Hasan di Pengertian Kedisiplinan
    kapten pergerakan di PENGERTIAN TATA TERTIB
    Sukarno Putra Naga di pt.yasunaga pt. nippon seiki b…
    hariri wahyudi di METODE MENGAJAR PENDIDIKAN…
    Febri jaka hendra di Lowongan kerja Pt. Yasunaga…
    suefah di Lowongan kerja Pt. Yasunaga…
    nurrachman di Jumlah huruf dalam Al Qur…
    Faizal di Lowongan kerja Pt. Yasunaga…
    HABIB ATHOILLAH di Faktor-faktor yang mempengaruh…
    Ari Waluyo di Lowongan kerja Pt. Indonesia N…
  • Tulisan Teratas

  • RSS indoforum

  • RSS berita aktual

  • RSS liputan 6

  • NimbuZZ

    Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

  • Add to Technorati Favorites
  • depdiknas

  • twitter

  • Top Rated

  • Bersuci dalam islam

    Posted by starawaji pada Februari 3, 2009

    T A H A R A H

    1. Arti Thaharah
    Taharah menurut bahasa artinya “bersih” sedangkan menurut syara’ berarti bersih dari hadas dan najis.
    Bersuci karena hadas hanya di bagian badan saja.
    Hadas ada dua, yaitu : hadas besar dan hadas kecil.
    Menghilangkan hadas besar dengan mandi atau tayammum dan menghilangkan hadas kecil dengan wudlu’ atau tayammum.
    Bersuci dari hadas berlaku pada badan, pakaian dan tempat. Cara menghilangkannya harus di cucui dengan air suci dan mensucikan.

    Kedudukan thaharah dalam ibadat
    Taharah merupakan masalah yang sangat penting dalam Agama dan merupakan pangkal pokok dari ibadat yang menjadi penyongsong bagi manusia dalam menghubungkan diri dengan Tuhan.
    Salat tiada sah bila tiada dengan thaharah, hal ini sesuai dengan sabda Nabi saw. :
    لاَيَقْبَلُ الَّلهُ صَلاََََََ ةً بِغَيْرِطَهُوْرٍ ٠﴿رواه ملم﴾
    “Laa yaqalullaahu shaalatan bgihairi thahuurin”.

    Artinya :
    “Allah tidak menerima shalat yang tidak dengan bersuci”. (H. R. Muslim)

    2. Macam-macam air dan pembaginya
    Alat terpenting untuk bersuci ialah air. Di tinjau dari segi hukumnya, air dapat di bagi menjadi 4 macam :
    1. Air Mutlak (air yang sewajarnya) ; yaitu air suci yang dapat mensucikan (thahir-muthahhir), artinya air itu dapat di gunakan untuk bersuci, misalnya air hujan, air sungai, air laut, air sumur, air salju, dan air embun.
    2. Air Makruh ; yaitu air suci dan dapat mensucikan tetapu makruh di gunakannya, seperti air musyammas (air yang di panaskan dengan panas matahari) dalam tempat logam yang di buat bukan dari emas dan perak.
    3. Air suci tetapi tidak dapat digunakan untuk bersuci (thahirghairu muthahhir) ; yaitu air yang boleh di minum tetapi tidak sah untuk bersuci, misalnya :
    a. air sedikit telah dipakai untuk bersuci walaupun tidak berobah sifatnya. Air itu di sebut air musta’ mal.
    b. air suci yang bercampur dengan benda suci, seperti air the, air kopi, air kelapa, dan sebagainya.
    4. Air mutanajjis, yaitu ir yang terkena najis. Air mutanajjis apabila kurang dari dua kullah 1) tidak sah untuk bersuci, tetapi apabla lebih dari dua kullah dan tidak berubah sifatnya (bau, rupa dan rasanya), maka sah untuk bersuci.

    3. Macam-macam najis dan tingkatannya

    Najis (najasah)
    Najis (najasah) menurut bahasa artinya kotoran, sedang menurut syara’ berarti yang mencegah sahnya shalat, seperti air kencing dan sebagainya.
    najias dapat dibagi menjadi tiga bagian :
    1). Najis mughalladzah ; yaitu najis yang berat : yakni najis yang timbul dari najis anjing dan babi. Cara mensucikannya ialah lebih dahulu dihilangkan wujud benda najis itu, kemudian baru dicuci bersih dengan air sampai tujuh kali dan permulaan diantara pensucian itu dicuci dengan air yang bercampur tanah. Cara ini dilakukan berdasarkan sabda Rasulullah saw.:
    طُهُوْرُاِناَءِاَحَدِ كُمْ اِذ َاوَلَغَ فِيْهِ الْكَلْبُ اَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ اُولاَهُنَّ اَواُخْرَاهنَّ بِالتَّرَابِ
    Artinya:
    “sucinya tempat (perkakas) mu apabila dijilat anjing adalah dengan mensucinya tujuh kali, permulaan atau penghabisan diantara pensucian itu dicuci dengan air yang bercampur dengan tanah”. (HR. At-Turmudzi)

    2). Najis mukhaffafah, adalah najis yang ringan, seperti air kencing bayi laki-laki yang umurnya kurang daridua tahun atau belum makan apa-apa kecuali air susu ibunya. Cara mengilangkannya cukup dengan memercikannya air pada benda yang kena najis itu sampai bersih, sabda Rasulullah saw. :

    “Yughsalu min bauliljaariyati wa yurasysyu min baulilghulaami” .
    Artinya :
    “Barang yang terkena air kencing anak perempuan harus di cuci, sedang bila terkena air kencing anak laki-laki cukukplah dengan memercikkan air padanya”.
    (H.R. Abu Dawud dan Nasa’і)

    3). Najis mutawassithah (sedang), yaitu kotoran seperti kotoran manusia atau binatang, air kencing, nanah, darah, bangkai, (selain bangkai ikan, belalang dan mayat manusia) dan najis-najis yang lain selain yang tersebut dalam najis ringan dan berat.
    Najis mutawassithah dapat di bagi menjadi dua bagian :
    a. Najis ‘aniyah ; yaitu najis yang bendanya berwujud. Cara mensucikannya dengan memnghilangkan zatnya lebih dahulu, hingga hilang rasa, baud an warnanya, kemudian menyiramnya dengan air sampai bersih.
    b. Najis hukumiyah ; yaitu najis yng tidak berwujud bendanya; seperti bekas kencing, araj yang sudang kering. Cara mensucikannya cukup dengan mengalirkan air pada bekas njis itu.
    4). Najis yng dapat dima’afkan :
    Najis yng dapat dima’afkan antara lain :
    a. Bangakai binatang yang darahnya tidak mengalir, sereti nyamuk, kutu-busuk dan sebagainya.
    b. Najis yang sedikit sekali.
    c. Nanah atau darah dari kudis atau bisulnya sendiri yang belum senbuh.
    d. Debu yang campur najis dan lain-lainnya yang sukar dihindarkan.

    4. I S T I N J A’
    Beruci dari buang air besar atau buang air kecil, di sebut istinja’.
    Istinja’ dapat dilakukan dengan salah satu dari tiga cara, yaitu :
    1). Membasuh tempat keluarnya najis dengan air sampai bersih.
    2). Membersihkan dengan batu atau kertas sampai bersih. Sekurang-kurangnya dengan tiga buah batu atau dengan tiga tepi dari sebuah batu. Jika tidak ada batu dapat digunakan benda-benda yang lain asal kesat/keras.
    3). Di bersihkan terlebih dahulu dengan batu, kemudian baru dibasuhnya dengan air.

    Syarat-syarat istinja’ dengan batu atau benda yang keras :
    1. Batu atau benda keras dan harus suci serta dapat untuk membuang/membersihkan najis.
    2. Batu atau benda itu tidak bernilai (dihormati), misalnya bukan bahan makanan dan bukan batu mesjid
    3. Sekurang-kurangnya dengan tiga kali sapuaan dan sampai bersih.
    4. Najis yang akan dibersihkn belum kering .
    5. Najis itu tidak pindah dari tempat keluarnya, misalnya pindah ke kaki dan sebagainya.
    6. Najis itu belum tercampur dengan benda lain, walaupun benda itu suci, misalnya tidak terpecik oleh air padanya.

    5. M A N D I
    1. Pangertian mandi menurut syara’ :
    Mandi menurut syara’ ialah meratakan air pada seluruh badan untuk membersihkan/mengnagkat hadast besar.
    Sebagai mana ketika ketahui bahwa salat baru sah apabila kita suci dari hadst besar maupun kecil. Cara menghilangkan hadast besar dengan mandi wajib, yaitu membasuh seluruh tubuh mulai puncak kepala/ujung rambut hingga ujung kaki.
    Firman Allah dalam Al-Qur-an sebagai berikut :
    لاَتَقْرَ بُواالصَّاَو ةَ وَاَنْتُمْ سُكََََََرَى حَتَّى تَعْلَمُوْا مَا تَقُوْ لُوْنَ وَلاَ جُنُبًااِلاَّ عَا بِرِىْ سَبيِْلٍ حَتَّ تَغْتَسِلُوْا (النسا ء:٣٤)

    Artinya :
    “janganlah kamu sekalian kerjakan shalat dikala kamu sedang mabuk hingga kamu mengetahui apa yang kamu katakan, dan jangan pula kamu kerjakan shalat ketika kamu sedang “junub” kecuali lewat tempat shalat saja, sebelum kamu mandi dahulu”.
    (Q.S. An-Nisa, ayat 43).
    2. Sebab-sebab yang mewajibkan mandi :
    Tentang sebab-sebab orang diwajibkan mandi sebagai berikut :
    a. Hubungan kelamin, yaitu bertemunya dua kehitanan (persunatan) laki-laki dan perempuan.
    عَنْ اَبِىْ هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَا لَ :قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَى اللهُ علَيْهِ وَسَلَّمَ : اِذَا جَلَسَ بَيْنَ شُعَبِهَا اْلاَ رْبَعِ ثُمَّ جَهَدَ هَا فَقَدْ وَجَبَ الْغُسْلُ . متفو عليه ،وزادملم: وَاِنْ لَمْ يُنْزِلْ.
    Artinya :
    “dari abu huarairah ra. Ia berkata : Rasulullah saw. Bersabda : Apabila laki-laki duduk diantara empat cabang wanita, lalu ia dikerjakan, maka sungguh telah mandi wajib”. muttafak ‘alaih. Dan Muslim menambah : “Walaupun tidak keluar maninya”.
    عَنْ اَنَسٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَى اللهُ علَيْهِ وَسَلَّمَ : فِى الْمَرْ أَةِ تََرَى فِىْ مَنَا مِهَا مَا يَرَى الرَّ جُلُ . قَالَ : تَغْتَسِلُ . صتفو عليه. زاوملم: فَقَالَتْ اُمَّ سَلَمَةَ : وَهَلْ يَكَوْنُ هَذَا؟ قَالَ : نَمَمْ. فَمِنْ اَيْنَ يَكُوْنُ الشَّبَهُ ؟
    Artinya :
    Dari Anas ra. ia berkata : Rasulullah saw. Bersabda : (tentang wanita yang mimpi apa-apa yang dimimpikan oleh laki-laki) sabdanya : “Hendaklah ia mandi”. Muttafak ‘alaih. Dan muslim menambah : berkata Ummu Salamah : “Apakah suka terjadi begitu ?”. Nabi bersabda : “Ya, karena dari manakah persamaan ?.
    Sabda Rasulullah s.a.w. :
    قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَى اللهُ علَيْهِ وَسَلَّمَ : اِذّ االْتَقََََََََََََََََََََََََََََََى الْخِتَانَانِ فَقَدْ وَجَبَ الْغُسْلُ وَاِنْ لَمْ يُنْزِلْ .(رزاه ملم)
    Artinya :
    Sabda Rasulullah saw. : “Apabila bertemu dua penyunatan (khitan) maka sesungguhnya telah diwajibkan mandi, meskipun tidak keluar mani”. Riwayat Muslim.
    b. Keluar mani.
    عَنْ اَبِىْ سَعِيْدٍ الْخُدْ رِىِّ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رّسُوْلُ اللهُ صَلَى اللهُ علَيْهِ وَسَلَّمَ : اَلْمَاءُ مِنَ الْمَاءِ. (رواه مام واصله فى لبخا رى)
    Artinya :
    Dari Abu Sa’id Al-Khudriyyi ra. ia berkata : Rasulullah saw. bersabda : “Air itu dari air”.
    (H.R. Muslim dan asalnya dari Bukhari).

    c. Mati.
    عَنِ ابْنِ عَبَّا سٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهُمَا اَنَّ ا لنَّبِىََّ صَلََّ اللهُ علَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فِى الَّّذِىْ سَقَطَ عَنْ رَا حِلَتِهِ فَمَاتَ: اِغْسِلُوْهُ بِمَاءٍ وَكَفِّنُوْهُ فِى ثَوْ بَيْنِ. (مقفو-عليه)
    Artinya :
    Dari Ibnu ‘Abbas ra. ia berkata : Bahwasannya Nabi saw. bersabda tentang orang yang meninggal lantaran jatuh dari kendaraannya : “Mandikanlah dengan air dan bidara, dan kafanilah dengan dua kainnya”.
    (H.R. Buikhari dan Muslim).

    d. Haidh (datng bulan) yaitu keluar darah secara wajar dari rahim wanita beberapa hari pada tiap-tiap bulan.

    Artinya :
    Dari ‘Aisyah ra. ia berkata; Bahwasannya Ummu Habibah binti Jahsyin mengadu kepada Rasulullah saw. tentang darah, maka Rasulullah bersabda : “Berhentilah (dari sembahyang) selama haidhmu menghalangimu, kemudian mandi”. Tapi Ummu Habibah suka mandi untuk tiap-tiap sembahyang”.
    (H.R. Muslim).

    Artinya :
    Dan dari hadist Asma binti Umais riwayat Abu Dawud : “Hendaklah ia duduk di suatu bejana, maka apabila ia melihat kuning di atas air hendaklah ia mandi hendak sembahyang Zhuhur dan ‘Ashar satu kali mandi dan untuk Maghrib dan ‘Isya satu kali mandi dan untuk Shubuh satu kali mandi dan harus berwudlu’ antara dua sembahyang itu”.

    e. Melhirkan anak.
    f. Nifas, yakni darah yang keluar dari rahim wanita sehabis melahirkan anak.

    3. Fardlu/rukun mandi :
    Tentang rukun mandi ini dapat diutarkan sebagai berikut :
    a. Niat. Yakni menyengaja mandi untuk menghilangkan hadast besar. Niat ini sekurang-kurangnya dilakukan ketika akan mengerjakan amalan pada waktu pertama kali.
    b. Membasuh badan.
    c. Menghilangkan najis yang ada pada badan.
    d. Meratakan air seluruh rambut dan kulit.

    عَنْ ابِىْ هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رّسُوْلُ اللهِ صَلَى اللهُ علَيْهِ وَسَلَّمَ: اِنَ تَحْتَ كُلِّ شعَرَةٍ جَنَبَابَةً ، فَا غْسِلُواالشَّعَرَ ،وَاَنْقُواالْبَشَرَ .(رواه ابوداووالتر مزىوضعفاه)
    Artinya :
    Dari Abu Hurairah ra. berkata : Rasulullah saw. bersabda : “bahwasannya di bawah tiap-tiap rambut itu dan bersihkanlah kulit”.
    (H.R. Abu Dawud dan Trimidzi dan dilemahkannya).
    4. Sunnat-sunnat mandi :
    Mengenai sunnat-sunnat mandi ini dapat diperinci sebagai berikut :
    a. Membac Bismillahirahmanirrahim.
    b. Berwudlu’ sebelum ,mandi.
    c. Menggosok badan dengan tangan.
    d. Menyilang-nyilangi rambut dan celah-celah anggauta.
    e. Memulai membasuh kepala kemudian membasuh angauta-anggauta badan yang sebelah kanan dahulu.
    f. Meniga kalikan pembasuhn anggauta badan.
    g. Beriring, yaitu tidak lama waktunya antara membasuh sebagian anggauta yang satu dengan yang lain.
    Rasulullah saw. melaksaanakan mandi sesuai dengan sabdanya :

    Artinya :
    Dari’ Aisyah ra., ia berkata : Adalah Rasulullah saw. mandi jinabat beliau mulai mencuci dua tangannya lalu beliau menyirmkan dengan yang kanan atas yang kiri, lalu beliau menciuci kemaluannya, lalu berwudlu’, lalu beliau mengambil air, lalu beliau memasukan jari-jarinya ke pangkal-pangkal rambut, lalu beliau menyiram kepalanya tiga kali siraman, lalu beliau menyiram seluruh badannya, kemudian mencuci dua kakinya
    (Muttafak ‘alaih, dan lafadh ini dalam riwayat muslim)

    5. Mandi sunnat :
    Di samping mandi yang bersifat wajib dalam Agama Islam ada yang bersifat anjuran, yaitu :
    a. Orang yang baru masuk Islam.
    b. Orang yang baru sembuh dari gila dan pingsan.
    c. Untuk menghadiri shalat Jum’at.
    d. Untuk menghadiri shalat-shalat ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adh-ha
    e. Untuk shalat istisqa’ (minta hujan).
    f. Habis memandikan mayat.
    g. Waktu akan berihram.
    h. Masuk negeri Mekkah
    i. Wuquf di padang ‘Arafah.
    j. Bermalam di Muzdalifah.
    k. Melempar jumrah.
    l. Akan thwaf dan sa’i.
    m. Akan masuk negeri Medinah

    6. H A I D H
    1. Pegertian darah haidh
    Haidh ialah darah yang keluar dari rahim wanita yang sudah baligh yang mana keluar tiap-tiap bulan sedikitnya 1 (satu) hari satu malam dan umumnya tujuh hari lamanya.
    Menurut Ulama dan kenyataan, wanita mengeluarkan darah haidh (datang bulan) sekurang-kurangnya berusia 9 tahun.
    Haidh merupakan suatu tanda yang menunjukan batas umur bagi perempuan menjadi baligh.
    Baligh artinya sampai umur, hingga ia disebut orang sudah mukallaf.

    2. Tanda-tanda orang yang sudah baligh, ialah :
    a. Menurut para psycholog/ ahli ilmu jiwa orang dikatakan dewasa apabila sudah berusia 16/17 tahun bagi laki-laki, dan 14/15 tahun bagi wanita.
    b. Menurut para Ulama Islam orang dikatakan baligh apbila ia telah datang haidh bagi perempuan walaupun belum sampai 15 tahun.
    c. Telah bermimpi bersetubuh, baik laki-laki maupun perempuan.
    Umumnya menurut pandapat psycholog dan Ulama Islam ini tidak bertentangan.

    3. Bilangan dari haidh :
    Sebanyak-banyak masa haidh ialah 15 hari sedang sekurang-kurangnya sehari semalam, tetapi biasanya enam atau tujuh hari.
    Sekurang-kurangnya masa cuci antara dua haidh ialah 15 hari; dan sebanyak-banyaknya masa cuci tak ada batasnya.

    4. Warna darah haidh dan nifas :
    Darah haidh adalah merah hitam warnanya dan ia keluar dari rahim perempuan, bukan daari anggauta yang lain.
    Darah yang keluar melebihi banyaknya dari ukuran darah haidh dan lebih lama masanya, di sebut darah istihadhah; yaitu darah penykit yang keluar dari rahim perempuan. Darah semacam ini adakalnya sesudah masa haidh. Perempuan yang mengeluarkan darah istihadhah tidak dibolehkan meniggalkan kewajiban shalat, puasa dan ibdat-ibdat yang lain.

    5. N i f a s :
    Nifas ialah darah yang keluar sesudah bersalin. Lama masa keluarnya darah itu sedikit-dikitnya satu kali dalm satu hari dan sebanyak-banyaknya 60 hari disebut juga darah istihadhah.
    Perempuan yang sedang haidh dan nifas harus meninggalkan shalat dan puasa. Mereka hanya wajib mengqadla puasa yang ditinggalkan selama haidh dan nifas serta tidak diwajibkan mengqadla shalat, yang ditinggalkan selama mereka haidh dan nifas.
    Nabi Muhammad saw. bersabda :
    عَنْ عَاءِشَةَ رَضِىَ للهُ عَنْهَاقَالَتْ : نُوْء مَرُ بِقَضَاءِ الصِّوْمِ وَلاَنُوءْ مَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاةِ. (رواه لبخا رىوملم)
    Artinya :
    “dari ‘Aisyah ra. ia berkata : Kami di perintah mengkadla shalat”.
    (H.R. Bukhari dan Muslim)

    7. LARANGAN BAGI ORANG YANG SEDANG BERHADAST BESAR
    Karna hadast besar, orang dilarang :
    1. Mengerjakan shalat.
    2. Thawaf.
    3. Membaca dan menyentuh atau membawa Al-Qur-an.
    4. Berdiam dalam mesjid.
    Bagi wanita yang berhadast besar karena haidh dan nifas, kecuali larangan tersebut di atas, di tambah dengan larangan sebagai berikut :
    5. Puasa, baik yang fardlu maupun yang sunnah.
    6. Bercampur dengan suaminya hingga ia suci dari haidh dan nifasnya dan sesudah mandi.
    7. Larang bagi suami menthalaq isterinya yang sedang haidh atau nifas.
    Larangan bercampur antara suami isteri selama isteri sedang haidh atau nifas dengan firman Allah dalam Al-Qur-an :

                             •     
     (البقر ة :۲۲۲)
    Artinya :

    “Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) perihal darah haidh, katakanlah : Bahwa darah itu adalah suatu penyakit, maka hindarilah perempuan-perempuan ketika mereka sedang haidh dan janganlah kamu hampiri (campuri) sampai mereka suci. Jika mereka telah suci bolehlah kamu hampiri menurut yang dihalalkan Allah. Sesungguhnya Allah kasih kepada orang-orang yang bertaubat dari suci bersih”.
    (S. Al-Baqarah, ayat 222)

    8. ADAB BUANG AIR
    Pada waktu buang air ada beberapa adab yang baik, yaitu :
    1). Buang air sambil berdo’a seperti di bawah ini :
    اَلَّهَمََّ اِنِّىْ اَعُوْذُ بِكَ مِنْ الْخُبُثِ وَالْخَبَاءِثِ.
    “Allaahumma inni a’uudzu bika minal khubutsi walkhabaa-itsi”.
    Atinya :
    “Ya’ Allah, saya berlindung dengan-mu dari pada kotoran dan segala yang kotor”.

    2). Sunnat mendahulukan kaki kanan ketika keluar dari tempat buang air dan mendo’a :
    غَفُرَ انَكَ الْحَمَدُ لِلَّهِ لََّذِىْ اَذْهَبَ عَنِّى الآْذَى وَعَا فَانِىْ.
    Artinya :
    “Sata mengharap ampunan-Mu. Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan suatu kotoran yang menyakitkan diriku, yang menyehatkannya”.

    3). Jangan ditempat yang terbuka.
    عَنْ عَا ءِشَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: اَنِّ النَّبِىَّ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ اَتَّى الْغَا ءِطَ فَاْيَسْتَتِرْ. (رواه ابوواود)
    Artinya :
    Dari ‘Aisyah ra. ia berkata : Bahwasannya Nabi saw. bersabda : “Barang siapa yang datang ketempat buang air hendaklah ia berlindung (bersembunyi)”.
    (HR. Abu Dawud).

    4). Jangan ditempat yang mengganggu orang lain.
    عَنْ اَبِى هُرَ يْرَةَ رَضِىَ اللهِ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رّسُوْلُ اللهُ صَلَى اللهُ علَيْهِ وَسَلَّمَ: اِتََّقُواالَّلا عِنِيْنَ الَّذِىْ يَتَخَلََّى فِىْ طَرِيْقِ النَّاسِ اَوْظِلِهِمْ. (رواه ملم)
    Artinya :
    Dari Abu Hurairah ra. berkata ; Rasulullah saw. bersabda : “Jauhilah dua macam perbuatan yang dila’nat, yaitu suka buang air besar di jalan orang banyak atau di tempat untuk berteduh”.
    (H.R. Muslim).
    5). Jangan di bawah pohon yang sedang berbuah.
    وَاَخْرَجَ ا لطَّبَرَا نِىُُّ النَّهْىَ عِنْ قَضَاءِ احَا جَةِ تَحْتَ الاْشْجَا رِ امُثْمِرَةِ وَضَفَةِ النَّهْرِ اجَا رِىْ مِنْ حَدِيْثِ ابْنِ عُمَرَ بَسَنَدٍ ضَعِيْف
    Artinya :
    Dan dikeluarkan oleh Thabrani, larangan buang air besar dibawah pohon yang berubah, dan ditepi air yang mengalir, dari hadist Ibnu ‘Umar dengan sanad yang lemah.

    6). Jangan bercakap-cakap kecuali apabila terasa benar.

    Artinya :
    Dari Jabir ra. ia berkata ; Rasulullah saw. bersabda : “Apabila dua orang buang air besar, hendaklah masing-masing berlindung (bersembunyi) dari yang lainnya, dan jangan mereka berkata-kata, karena Allah mengutuk perbuatan demikian.
    (H.R. Ahmad dan disahkan oleh Ibnus Sakan dan ibnul Qattan dan hadits ini ma’lul).

    7). Jika terpaksa benar di tempat yang terbuka, janganlah menghadap kiblat atau membelakanginya.

    Artinya :
    Dari Salman ra. dalam riwayat, ia berkata : “Sungguh telah melarang Rasulullah saw. kepada kami menghadap kiblat waktu buang air besar dan buang air kecil, dan cebok dengan tangan kanan, atau istinjak dengan batu yang kurang dari tiga buah, dan istinjak dengan kotoran binatang atau tulang”.
    (H.R. Muslim).

    8). Jangan membawa ayat-ayat Al-Qur-an dam kalmiat dzikir.
    9). Cebok dengan tangan kiri.

    Artinya :
    Dari Abi Qatadah ra. ia berkata : Rasulullah saw. bersabda : “Janganlah sesorang diantara kamu mnyentuh kemaluaannya diwaktu kencing dengan tangan kanannya, dan janganlah ia bercebok dengan tangan kanannya, dan janganlah bernafas dalam bejana”.
    (Muttafaq ‘alaih dan lafadh ini dalam riwayat muslim).

    9. BERWUDLU
    1. Arti wudlu’
    Wudlu’ menurut loghat berarti bersih dan indah. Menurut syara’ berarti membersihkan anggota-anggota wudlu’ untuk menghilangkan hadast kecil.
    Wudlu’ adalah suatu syarat untuk syahnya shalat yang dikerjakan sembelum seseorang mengerjakan shalat. Perintah wajib wudlu’ ini sebagai mana firman Allah swt. yang bunyinya sebagai berikut :
                      (الما ترة:۶)
    Artinya :
    “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu akan mengerjakan shalat, basuhlah mukamu dan dua tanganmu sampai dengan siku, sapulah kepalamu kemidian basuhlah kakimu hingga kedua mata kaki”.
    (S. Al-Maidah, ayat 6).

    2. Syarat-syarat sahnya wudlu’
    Wudlu baru dikatakan syah, apabila ada syarat-syarat sebagai berikut :
    a. Islam ; orang yang tidak beragama Islam tidak sah mengerjakn wudlu’.
    b. Mumayyiz ; artinya orang yang sudah dapat membedakan antara baik dan buruk dari pekerjan yang di kerjakannya.
    c. Di kerjakan (menggunakan) air yang suci dan mensucikan untuk mengangkat hadast.
    d. Tidak ada suatu anggauta wudlu’ itu yang dapat merobah air yang digunakan untuk berwudlu’.
    e. Tidak ada suatu benda yang dapat menghlangi sampainya air wudlu’ pada anggauta wudlu’.
    Adapaun yang selalu berhadast ; misalnya orang itu selalu kentut atau kencing ; wudlu’ harus dilakukan sesudah masuk waktunya shalat.

    3. Fardlu wudlu’ :
    a. Niat wudlu’, hendaknya berniat menghilangkan hadst kecil, dan cara melakukanya tepat pada waktu membasuh muka.
    b. Membasuh muka ; yakni mulai dari tempat tumbuh rambut kepala dan ujung dagu sampai antara kedua telinga.
    c. Membasuk kedua belah tangan sampai siku.
    d. Menyapu sebagian dari rambut kepala.
    e. Membsuh dua belah kaki sampai kedua mata kaki.
    f. Tertib ; artinya menurut urutan dari nomor satu sampai nomor lima.

    4. Sunnat-sunnat wudlu’ :
    Mengenai sunnat-sunnat wudlu’ dapat diutarkan sebagai berikut :
    a. Membaca “Bismillahirrahmaanirrahiim” sebelum melakukan wudlu’ (dikerjakan pada permulaan wudlu’).
    b. Membasuh telapak tangan sampai pergelangan tangan.
    c. Berkumur-kumur dan membersihkan lobang hidung.
    d. Membasuh seluruh kepala.
    e. Mengusap kedua buah telinga bagin luar dan dalam.
    f. Mendahulukan anggauta wudlu’ yang kanan dari pada yang kiri.
    g. Menyela-nyela jari tangan dan kaki.
    h. Meniga kalikan pada tiap-tiap membasuh anggauta wudlu’ dan berkumur.
    i. Berurutan ; artinya tidak lama selang waktunya dalam mengerjakan anggauta yang satu dengan yang lain.
    j. Tidak boleh berkata-kata ketika mengerjakan wudlu’.
    k. Bersiwak (menggosok gigi).
    l. Menghadap kiblat.
    m. Membaca do’a setelah selesai mengerjakan wudlu’, sebagai berikut :

    Artinya :
    “Aku bersaksi tiada Tuhan melainkan Allah yang Tunggal, tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammd adalah hamba-nya, dan pesuruh-Nya. Ya Allah, jadikanlah saya dari golongan orang ahli taubat dan jadikanlah saya orang suci dan jadikanlah saya termasuk orang golongan hamba-Mu yang shaleh (baik-baik)”.

    YANG MEMBATALKAN WUDLU’
    Hal-hal yang membatalkan wudlu’ ialah :
    1. Keluar dari suatu qubul dan dubur meskipun hanya angin. Hal ini sesuai dengan firman Allah swt :
    اَوْ جَاءَ اَحَدٌ مِّنْكُمْ مِّنَ الْغَا ءِطِ (النساء:٤٣)
    Artinya :
    “Atau datang seseorang di antara kamu dari kakus”.
    (S. An-Nisa’,ayat 43)
    Dengan keterangan ayat ini, jelas bagi orang yang datang sari kakus kalau tidak ada air hendaklah ia bertayammum, berarti buang air itu membatalkan wudlu’.
    Dalam hadits dinyatakan oleh Rasulullah saw, sebagaimana sabdanya :
    قَالَ رّسُوْلُ اللهُ صَلَى اللهُ علَيْهِ وَسَلَّمَ لاَيَقْبَلُ اللهُ صَلاَةَ اَحَدِ كُمء اِدَا حَدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّاءَ. (متفق عليه)
    Artinya :
    “Allah tidak menerima shalat di antara kamu jika berhadast, sehingga lebih dahulu ia berwudlu’.
    (H.R. Bukhari. dan Muslim).

    2. Hilang akal karena gila, pingsan, mabuk atau tidur nyenyak.
    Sabda Nabi Muhammad saw :
    عَنْ مُعَا وِيَةََََََ قَالَ : قَالَ رّسُوْلُ اللهُ صَلَى اللهُ علَيْهِ وَسَلَّمَ : اَلْعَيْنُ وِكَاءُ السَّهِ ، فَاِدَا نَامَتِ الْعًيْنَانِ اسْتَطْلَقَ الْوِ كاَءُ. رواه امحد والطبرانى. وَذَادَ: وَمَنْ نَامَ فَلْيَتَوَضََّاءْ.
    Artinya :
    Dari Mu’awiyah berkata : Bahwasannya Rasulullah telah bersabda : “Mata itu pengikat dubur, maka apabila telah tidur dua mata, terlepaslah pengikat itu”.
    (H.R. Ahmad dan Thabrani)
    Dan ia menambahkan hadits itu : “Barangsiapa tidur, hendaklah ia berwudlu’”.
    3. Bersentuh kulit antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrimnya dan tidak memakai tutup.
    Firman Allah swt. dalam Al-Qur-an :
    اَوْ لَمَسْتُمُ النِّسَاءَ (النساء:٤٣)
    Artinya :
    “…:……. atau bersentuh dengan perempuan (yang bukan muhrim)”.
    (S. An-Nisa’,ayat 43)
    4. Tersentuh kemaluan (qubul dan dubur) dengan tapak tangan atau jari yang tidak memakai tutup.
    عَنْ بُسْرَةَ بِنْتِ صَفْوَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْربا اَنَّ رّسُوْلُ اللهِ صَلَى اللهُ علَيْهِ وَسَلَّمَ: قَالَ : مَنْ مَسَّ ذَكّرَهُ فَلْيَتَوَضَّاءَ .
    Artinya :
    Dari Busrah binti Shafwan r.a. bahwasnnya Rasulullah saw bersabda : “Barangsiapa yang menyentuh kemaluannya kendaklah ia berwudlu’”.
    (H.R. Lima Ahli Hadits)
    Yang dimaksud menyentuh kemaluan (farji), baik kemaluannya sendiri maupun orang lain, laki-laki mupun perempuan, anak-anak maupun orang tua, dubur maupun qubul, semua itu dapat dinyatakan membatalkan wudlu’.
    Yang dimaksud tapak tangan atau jari, termasuk juga tapak jari, yaitu sekalian yang bertemu apabila dihadapannya kedua telapak tangannya, maka itulah yang disebut tapak tangan. Maka tidak batal apabila seseorang menyentuh kemaluan dengan kulit belakang jarinya.

    10. BERWISAK (BERSUGI)

    Berwisak atau bersugi artinya menggosok gigi dengan benda yang kesat dan harum. Rasulullah sangat gemar bersiwak, yakni menggosok giginya baik di kala beliau sedang berpuasa maupun tidak. Juga di kala berwudlu’ dan di ketika hendak shalat. Dan tak luput pula beliau bersugi di kala hendak masuk rumah, menjumpai isterinya.
    Bersiwak itu banyak manfaatnya, dia dapat mewangikan mulut, menguatkan gusi, menghilangkan penyakit gigi dan menambah rajin membaca.
    Rasulullah saw. bersabda :
    عَنْ عَا ءِشَةَ اَنَّ النَّبِىََّ صَلََّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلََّمَ قَالَ : اَلسِّوَ اكث مَطْهَرٌ
    لَلْفَمِ مَرْضَا ةٌ لَلرَّ بِ

    Artinya :
    Dari Aisyah ra. bahwasannya Rasulullah saw bersabda : “Berwisak itu dapat membersihkan mulut dan menghasilkan keridlaan Tuhan”.
    (H.R. Baihaqi dan Nasa’i)
    Mengingat pentingnya berwisak, maka Rasulullah saw pernah bersabda :
    عَنْ اَبِىْ هُرَيْرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلََّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلََّمَ اَنَّهُ قَالَ: لَوْلاَ اَنْ اَشُقَّ عَلَّى اُمَتِنْ لاَمَرْ تُهُمْ بَالسِّوّاكِ مَعَ كُلِّ وُضُوْءٍ.
    Artinya :
    Dari Abu Huraairah r.a. bahwasnnya Rasulullah saw bersabda : “Sekiranya bukan akan membuat sulit dan sukar bagi umatku, tentulah aku akan memerintahkan bereka berwisak pada tiap-tiap berwudlu’”.
    (H.R. Malik dan Ahmad serta Nasa’i)
    Dengan keterangan hadits tersebut di atas, jelaslah bahwa berwisak itu di sunatkan di segenap hal, kecuali sesudah gelincir matahari, karena bau mulut orang yang berpuasa itu di nyatakan lebih harum dibandingkan dengan minyak kasturi. Sabda Nabi saw :
    عَنْ اَبِىْ هُرَيْرَةَ عَنِّ انَّبِىِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وِسَلَّّمَ لَخَلَوْفُ فَمِ الصَّا ءِمِ اَطْيَبُ عِنْدَاللهِ مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ .
    Artinya :
    Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi saw : Bahwasannya bau mulut orang yang sedang berpuasa itu pada sisi Allah lebih harum di bandingkan dengan minyak kasturi”.
    (H.R. Bukhari dan Muslim)
    Dilihat dari segi fadlilahnya, berwisak itu menambah nilai pahala orang yang shalat. Dinyatakan oleh Rasulullah saw. sebagai berikut :
    رَكْعَتَانِ بِاسَّوَاكِ اَفْضَلُ مِنْ سَبْعِيْنَ رَكْعَةً بِلاََ سِوَكٍ.
    Artinya :
    “Dua raka’at sahalat yang dikerjakan dengan bersiwak, lebih utama dari tujuh puluh raka’at yang dikerjakan tanpa bersiwak”.
    (H.R. Abu Naim)

    11. TAYAMMUM
    1. Arti tayammum
    Perkataan tayammum menurut bahasa berarti menuju, sedang pada syara’ ialah mempergunakan tanah yang bersih guna menyapu muka dan tangan untuk mengangkat hadats menurut cara yang telah di tentukan oleh syara’.
    Pada suatu ketika, tayammum dapat menggantikan wudlu’ dan mandi janabah dengan syarat-syarat tertentu. Tayammum adalah suatu rukhshah/keringanan bagi orang yang tidak diperkenankan menggunakan air karena sakit atau kesulitan untuk mendapatkan air. Orang yang diperbolehkan tayammum ialah :
    a. Orang yang sedang sakit bila terkena air bagian anggauta wudlu’nya akan bertambah sakitnya menurut keterangan dokter.
    b. Karena dalam perjalanan dan sangat sulit untuk mendapatkan air.
    c. Karena tidak ada air.
    Firman Allah swt. :

                  
              
        (الما ءد ة :٦)
    Artinya :
    “dan jikia kamu dalam keadan junub, maka mandilah. Dan jika engkau sakit atau dalam perjalanan, dan buang air, atau kamu menyentuh perempuan dan kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang bersih, sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu”.
    (S. Al-Maidah, ayat 6)

    Artinya :
    Dari Ibnu ‘Abbas ra. tentang firman-Nya ‘Azza waJala (Dan jika kamu sakit, atau dalam perjalanan), ia berkata : “Apabila seseorang kena luka di jalan Allah dan kudis, lalu ia berjunub tapi ia takut mati bila ia mandi : (maka ia boleh) tayammum”.
    (H.R. Duruqhtuni, mauquf, dan dimarfu’ oleh Al-Bazzar dan disahkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Hakim)

    2. Syarat-ayarat sahnya tayammum :
    Tayammum supaya sah, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi yaitu :
    a. Telah masuk waktu shalat.
    عَنْ اَبِىْ سَعِيْدٍ اْخُدُ رِىِّ رَضِيَ اللهُ عِنْهُ قَالَ : خَرَجَ رَجُلاَنِ فِيْ سَفَرٍ فَحَضَرَتِ الصََّلاَةُ وَلَيْسَ مَعَهُمَا مَاءٌ فَتَيَمَّمَا صَعِيْدًا طَيِّبَا فَصَلََّيَا. َ
    Artinya :
    Dari Abu Sa’id Al-Khudriyyi ra. berkata : Dua orang telah pergi dalam suatu perjalanan, maka datanglah waktu sembahyang, dan pada mereka tidak ada air, lalu mereka tayammum dengan tanah yang bersih, maka mereka bersembahyang.
    (H.R. Abu Dawud dan Nasa’i).
    b. Sudah berusaha mencari air, tetapi tidak mendapatkannya sedang waktu shalat sudah masuk.
    c. Dengan menggunakan tanah/debu yang bersih.
    وَفِىْ حَدِيْثِ حُذ َيْفَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عِنْدَ مُشْلِمٍ : وِجَعِلَتْ تُّرْبَتُهَا لَنَا طَهُوْرًااِدَ لَمْ نَجِدِاْلمَاءَ. وَعَنْ علِىٍّ عِنْدَ اَحْمَدَ : وِجُعِلَ التُّرَا بُ لِىْ طَهُوْرًا.
    Artinya :
    Dan pada hadits Hudzaifah yang dikeluarkan oleh Muslim : “Dan tanahnya dijadikan alat pembersih bagi kita, apabila kita tak dapat air”.
    Dan dari ‘Ali ra. dalam riwayat Ahmad : “Dan tanah itu dijadikan alat pembersih bagiku”.

    d. Akan bertambah parah sakitnya atau lama sembuhnya bila anggauta wudlu’nya kena air.

    Artinya :
    Dari ‘Ali ra., ia berkata : “Suatu dari dua pergelanganku patah, lalu saya bertanya kepada Rasulullah saw., maka beliau menyuruh agar saya mengusap atas blutannya”.
    (HR. Ibnu Majah dengan sanad yang sangat lemah)

    e. Tidak ada air.

    Artinya :
    Dari Jabir bin ‘Abdullah ra. : Bahwasannya Nabi saw. bersabda : “Aku diberi lima perkara yang tidak diberikan kepada seseorangpun sebelum aku : Aku diberi kemenangan sebab kehebatan dari perjalanan satu bulan, dan dijadikan bagiku bumi ini tempat sembahyang dan alat pembersih, maka siapa saja bila sampai padanya waktu sembahyang, hendaklah ia bersembahyang”. Dan Jabir meneruskan hadits itu, dan selanjutnya”.
    (Muttafaq ‘alaih)

    3. Fardlunya tayammum :
    Rukun/fadlu tayammum ada empat, yaitu :
    a. Niat ; menyengaja tayammum untuk mengangkat hadast dengan keperluan untuk melakukan shalat fardlu, sunnat dan perkara-perkara yang suci.
    b. Mengusap muka dan dua tangan dengan debu yang bersih sampai siku.

    Artinya :
    Dari Ibnu ‘ Umar ra., ia berkata : Rasulullah saw. bersabda : “Tayammum itu dua kali tepukan : Sekali buat muka, dan sekali buat tangan sampai siku”.
    (HR. Daruquthni, dan disahkan mauqufnya oleh imam-imam)
    c. Meratakan debu yang bersih pada anggauta-anggauta yang harus ditayammumkan.
    d. Tertib, berurutan mengusapnya.

    4. Sunnat-sunnat tayammum :
    Sunnat-sunnat tayammum ada empat perkara, yaitu :
    a. Membaca Bismillahirrahmaanirrahiim.
    b. Mendahulukan anggauta yang kanan dari pada yang kiri.
    c. Menisipkan debu (jika debu telah ditangaan/telapak tangan).
    d. Membaca dua kalimat syahadat, setelah selesai tayammum, seperti halnya setelah selesai wudlu’.

    5. Hal-hal yang membatalkan tayammum :
    Yang membatalkan tayammum ada tiga perkara :
    a. Segala yang membatalkan wudlu’
    b. Melihat air sebelum melakukan sembhyng.
    c. Murtad, yaitu mengingkari Agama Islam sesudah memeluknya.

    6. Fungsi tayammum :
    Seseorang yang berhalangan wudlu’, boleh bertaymmum dan tiap-tip satu tayammum hanya boleh untuk satu shalat fardlu saja, tetapi boleh digunakan untuk mengerjakan shalat sunnat beberapa kali.
    Jika hendak shalat fardlu lagi. Wajiblah ia bertayammum lagi sekalipun tayammum yang pertama itu belum batal. Tayammum ini juga dapat mengganti mandi janabah.
    Tanah menjadi ganti air dalam tayammum, karena tanah arti dalam kesucian ; yaitu merupakan benda yang bersih, karena itu tanah yang dijadikan pula satu pokok dasar untuk mensucikan bekas jilatan anjing atau babi.
    Isi dunia ini tidak luput dari air dan tanah, menampung air yang turun dari langit. Jika tidak ada,maka tanah menjadi penggntinya. Kedua benda ini bantu-membantu, air dapat menyuburkan tanaman, sedang tanah mengandungnya dan memeliharanya.
    Menurut falsafah hidup, segala sesuatu kembali kebumi, manusia dan binatang yang terjadi dari pada air (mani) kembali ketanah, yaitu asal kejadiannya yang pertama kali.
    Bersuci dengan tayammum, dapat mengganti wudlu’ dan mandi karena janabah. Hal ini adalah suatu tanda bagi kita yang hendak melakukan shalat atau lainnya walau bagimanpun tidak ada air, tetapi tetap ia harus lebih dahulu bersuci.
    Dengan adanya syari’at tayammum untuk mensucikan hadats adalah suatu tanda, bahwa berwudlu’ dan mandi karena janabah itu lebih banyak mengenai kesucian batin dari pada kesucian lahir. Kalau hanya sekedar kesucian lahir, apalah artinya tayammum yang hanya menyapu-nyapukan tanah ke tangan dan ke muka itu saja !.-

    12. MENGUSAP KHUFFAIN
    Khuff ialah sepatu yang menutup rapat telapak kaki. Mengusap dua khuff itu suatu rukhshah (keringanan) dalam berwudlu’.

    Artinya :
    Dari Mughirah bin Syu’ban ra. ia berkata : “Waktu saya bersama nabi saw., beliau berwudlu’, maka saya berjongkok untuk membuka dua sarung kakinya, maka sabdanya : “Biarkan saja sebab aku masukannya dalam keadaan suci”; lalu beliau mengusap bagian atasnya. (H.R. Bukhari dan Muslim). Dan dalam riwayat Imam yang Empat, dari padanya (Mughirah) kecuali Nasa’I : “bahwasannya Nabi saw. mengusap bahagian atas sarung kaki dan bgian bawahnya”. Dan dalam sanadnya lemah.

    1. Syarat-syarat dibolehkan mengusap khuffain :
    Orang yang dibolehkan mengusap dua khuff dengan syarat-syarat, sebagai berikut :
    a. Dua khuff (septun) itu menutupi bagian kaki yang wajib dibasuh.
    b. Keduanya dalam keadaan suci.
    c. Keduanya kuat, dapat untuk berjalan-jalan.
    d. Keduanya dipakai sehabis selesai bersuci.

    2. Cara mengusapnya
    a. Cara mngusap dua sepatu ini dilakukan setelah mengerjakan (membersihkan anggauta wudlu’ secara urut dan tertib, baru yang terakhir mengusap khuffain ini).
    b. Diusapkan atau dusapukan ke bahagian atas khuff dengan tidak usah mengusap bahagian bawahnya.

    3. Masa mengusap :
    a. Bagi orang yang mukmin (yang menetap) dalam negerinya boleh mengusap kedua khuffnya sehari-semalam. Dalam sebuah riwayat dari Abu Bakrah, dikatakan sebagai berikut :

    Artinya :
    Dari Abu Bakrah ra. dari Nabi saw. : “Bahwasannya beliau mengizinkan tiga hari dan tiga malam untuk yang dalam perjalanan dan satu hari satu malam bagi yang mukim, kalau ia telah bersuci dan memakai dua sarung kakinya, mengusap bagian atas dari kedua sarung kakinya itu”.
    (H.R. Daruquthni dan disahkan oleh Ibnu Khuzaimah)
    b. Bagi musafir selama masa 3 hari 3 malam. Sedang masa waktunya dihitung mulai berhadats sehabis memakai dua khuff itu. :
    Sabda Nabi saw. :

    Artinya :
    Dari Shafwan bin ‘Assal ra. ia berkata : “Nabi saw. menyuruh kami, jika kami dalam perjalanan, jangan membuka sarung-sarung kami tiga hari dan tiga malam, sebab buang air besar, buang air kecil dan tidur ; kecuali sebab jinabat”.
    (H.R. Nasa’I, Trimidzi dan lafadz ini dalam riwayat Trimidzi dan Ibnu Khuzaimah, kedua-duanya mengesahkannya)
    Sabda Nabi saw. pula :

    Artinya :
    Dari Ali bin Abi Thalib ra., ia berkata : “Nabi saw. telah menetapkan tiga hari dan tiga malam bagi yang dalam perjalanan, dan sehari semalam bagi yang muqim yaitu tentang mengusap dua sarung kaki”.
    (H.R. Muslim)

    4. Sebab-sebab batalnya mengusap khufhain :
    Yang membatalkan mengusap khuffain itu ada tiga perkara :
    a. Terbuka ataui tanggal sendiri khuff itu
    b. Habis batas waktunya.
    Jadi jika terjadi salah satu dari ketiga perkara tersebut diatas, maka apabila berwudlu’ wajib membasuh kaki sperti biasa.

    2 Tanggapan to “Bersuci dalam islam”

    1. bobby said

      zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz
      kebanyakan susah bacanya

    2. nani said

      Alhamdulillah
      materi Thaharah ini akan saya ajarkan kpd anak2 saya.
      Smoga Allah SWT memberikan RahmatNya kpd penulis dan kita semua. Amin

    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

     
    %d blogger menyukai ini: