Sepuluh Marinir ASTumbang di HutanBanyuwangi
Ditulis oleh starawaji di/pada Oktober 21, 2009
Sepuluh prajurit Marinir
Amerika Serikat atau
United States Marine
Corps (USMC) harus
dievakuasi akibat
kelelahan saat menjalani
latihan bertahan hidup di
dalam hutan Selogiri,
Banyuwangi, Jawa Timur,
Selasa (20/10).
Staf Dinas Penerangan
(Dispen) Korps Marinir
Lettu (Mar) Mardiono
melaporkan sejak Senin
hingga Selasa, tercatat 10
prajurit Marinir
AS tumbang dan tidak
sanggup melanjutkan
latihan survival akibat
kelelahan dan tidak tahan
dengan cuaca tropis.
“Misalnya, Ranus (26) yang
berpangkat BFC dan
kelahiran California,
merupakan salah satu dari
10 Prajurit Marinir
Amerika yang terpaksa
harus dievakuasi tim
medis dari Korps Marinir
Indonesia,” katanya,
didampingi rekannya
Serda Mar Kuwadi.
Latihan Survival itu diikuti
362 Marinir Amerika yang
dipandu 16 pelatih, tiga
interpreter (penerjemah),
empat personel
komunikasi, dan lima
Prajurit Regu Pandu
Tempur (Rupanpur) Korps
Marinir TNI AL.
Kegiatan survival ini
merupakan bagian dari
rangkaian Latihan
bersama (latma) Marinir
Amerika dan Indonesia
yang bertajuk
“Interoperability Field
Training Exercise (IIP/FTX)
2009″ di Situbondo dan
Banyuwangi, 17-24
Oktober 2009.
Latma yang dikomandani
Kolonel Marinir Nur
Alamsyah itu dilakukan di
empat tempat, yaitu di
Pantai Banongan,
Puslatpur Marinir
Karangtekok, Kecamatan
Banyu Putih, Situbondo,
Pasewaran, dan hutan
Selogiri Banyuwangi.
Di Selogiri, 362 Prajurit
Marinir Amerika yang
menjelajahi hutan liar itu
dibagi menjadi dua
gelombang yang setiap
gelombang dibagi menjadi
lima tim dengan
didampingi pelatih dan
dokter dari Korps Marinir
TNI AL.
Satu per satu tim
diberangkatkan masuk ke
dalam hutan, tetapi
panitia sudah menyiapkan
rintangngan dan jebakan
ranjau yang dipasang
sedemikian rupa sebagai
tantangan, sehingga
sesekali terdengar suara
ranjau yang meledak dari
balik rerimbunan hutan.
Ledakan itu membuat
para prajurit kalang
kabut, namun mereka
tetap saling berkoordinasi
dalam satu komando
dengan komandan
regunya.
Sebelum menjalani perang
di dalam hutan, para
prajurit Marinir Amerika
itu dibekali beberapa
pengetahuan dan
wawasan terkait cara
bertahan hidup di dalam
hutan. “Mereka juga kami
ajari bagaimana cara
makan tumbuh-tumbuhan
di hutan, menghadapi
hewan di antaranya ular
dan beberapa jenis
binatang buas,” kata
Kepala Tim (Katim)
Survival Kapten Marinir M
Machfud.
Pelatih lainnya, Pelda
Marinir Mujiono
mempraktikkan
bagaimana cara yang
benar dalam menjinakkan
ular. Beberapa prajurit
Marinir Amerika juga ada
yang mencoba makan
beberapa jenis tumbuhan
liar. Dengan bekal logistik
yang terbatas, seorang
tentara memang dituntut
bertahan hidup. Setiap
gelombang Latihan
Survival itu memakan
waktu empat hari empat
malam.
“Mereka menghadapi
tantangan berat, meski
mereka membawa
perlengkapan tempur
seperti senapan laras
panjang M.16 A4, GPMG,
senjata canggih lainnya
yang dilengkapi dengan
infra merah, peralatan
komunikasi yang cukup
canggih, dan alat digital
petunjuk posisi di bumi
(Global Positioning
System/GPS),” katanya.























